Kemudian aku melihatmu bercermin, berdiri di depan potongan kaca yang didesain berdiri. Kamu mulai tersenyum menatap dirimu sendiri.
Pause
Waktu terhenti. Kemudian jiwaku seolah terhisap. Ditarik kuat meninggalkan tubuhku. Kini aku mendapati satu kesadaran yang berbeda. Kesadaranmu. Aku merasakan ketakutan-ketakutan dalam dirimu, juga semua kekhawatiranmu. Semua beban-bebanmu.
Semua yang selama ini mungkin tersembunyi di dalam pikiranmu, terasa ditayangkan di hadapanku. Dipantulkan bergantian di depan cermin yang sedang kau atau kutatap ini. Aku yang terperangkap dalam tubuhmu tidak bisa berbuat apapun kecuali menyaksikan semua beban dan rasa takut yang ditampilkan di cermin yang sepertinya sengaja tegak menantang ini.
Pause
Alarm berbunyi. Aku terbangun. Ternyata mimpi. Aku gemetar. Keringat mengucur. Seperti merasakan tayangan terhoror yang pernah ada. Mencoba mengingat semua rasa takut, beban hati dan pikiran, juga kekhawatiran yang mungkin saja bisa membuatku gila jika aku menjadi dirimu.
Bahwa terkadang perkataan mudah saja diucapkan dan janji mudah saja dibuat. Tetapi kesadaran yang baru saja kualami menghadapkanku pada suatu tujuan yang pasti. Realitas di ambang batas yang selama ini tertidur. Kini terbangun justru di alam mimpi. Terima kasih telah berbagi kesadaran denganku. Mengizinkanku masuk dan menyaksikan semua tayangan yang merupakan cerminan perasaan, ketakutan, dan beban-beban di dalam hatimu. Karena dengan demikianlah aku, kini mencapai kesadaranku yang utuh. Hasta manana, always be mine.
Jakarta, 22 Juli 2013
Ini adalah kumpulan cerita yang saya tulis sambil menggauli insomnia. Selamat membaca dan menyimaknya. Semoga berkenan dan akhirnya bersedia meninggalkan komentar.
Senin, 22 Juli 2013
Minggu, 21 Juli 2013
WhatsApp Messenger
Tol Cawang, Pk. 18.45 WIB
Hujan turun. Seluruh ruas jalan penuh. Seluruh kendaraan berlomba masuk ke ruas bahu jalan setiap melewati satu gerbang tol dan kembali keluar dari ruas bahu jalan setiap tiba pada gerbang tol berikutnya, baru kemudian masuk lagi setelah lewat beberapa meter. Trik jitu untuk menghindari tindak tilang dari aparat yang menjaga pintu tol.
Aku menatap layar ponsel. Menunggu nada Action dengan volume delapan yang kustel untuk notifikasi untuk setiap pesan WhatsApp Messenger.
Tidak ada pesan. Hening. Tanpa bunyi.
Masih belum bergerak, Sementara para penghuni group di Blackberry Messenger mulai ramai karena aku belum juga kunjung tiba menuju lokasi reuni. Jendela mobil dibuka. Aku menyalakan sebatang rokok. Mengepul keluar, hilang dihantam hujan.
Sementara jari-jari mulai menyusun kata-kata untuk kukirimkan kepadamu yang berada di balik layar ponsel ini.
Kamu, yang di balik layar ponsel. Barangkali menatap hal yang sama dengan yang kutatap sekarang. Ikon berupa balon percakapan berwarna hijau dengan gambar telepon berwarna putih di tengahnya. Sama, tanpa bunyi.
Akhirnya bunyi itu keluar dari ponselmu. Sekadar pertanyaan alakadarnya yang kulancarkan,”Bagaimana kabar dan pekerjaan yang bernuansa baru? Cukup menyenangkan?”
Dan tidak sampai satu menit, nada yang kutunggu-tunggu, nada Action dengan tingkat volume delapan itu berbunyi satu kali, dua kali. Bunyi pertama menjelaskan bahwa kamu merasa sedikit pusing, tetapi semuanya harus tetap dijalani karena sudah menjadi pekerjaanmu. Bunyi kedua hanya berisi thks singkatan dari thanks ala-mu.
Setelah itu baik aku atau kamu yang berada di balik layar ponselku, berdiam. Menunggu nada berikutnya. Aku yang takut karena merasa sepertinya kamu tidak terlalu menyukai pesanku, sehingga hanya membalas dingin dan singkat, menunggu perkataan selanjutnya darimu. Sementara kamu yang merasa aku tidak peduli lagi padamu, sehingga hanya mengirimkan basa-basi singkat tanpa ingin tahu lebih dalam lagi, menunggu respon dariku.
Menunggu.
Tidak ada pesan lagi. Hening. Tanpa bunyi.
Keduanya saling menunggu.
Hujan turun. Seluruh ruas jalan penuh. Seluruh kendaraan berlomba masuk ke ruas bahu jalan setiap melewati satu gerbang tol dan kembali keluar dari ruas bahu jalan setiap tiba pada gerbang tol berikutnya, baru kemudian masuk lagi setelah lewat beberapa meter. Trik jitu untuk menghindari tindak tilang dari aparat yang menjaga pintu tol.
Aku menatap layar ponsel. Menunggu nada Action dengan volume delapan yang kustel untuk notifikasi untuk setiap pesan WhatsApp Messenger.
Tidak ada pesan. Hening. Tanpa bunyi.
Masih belum bergerak, Sementara para penghuni group di Blackberry Messenger mulai ramai karena aku belum juga kunjung tiba menuju lokasi reuni. Jendela mobil dibuka. Aku menyalakan sebatang rokok. Mengepul keluar, hilang dihantam hujan.
Sementara jari-jari mulai menyusun kata-kata untuk kukirimkan kepadamu yang berada di balik layar ponsel ini.
Kamu, yang di balik layar ponsel. Barangkali menatap hal yang sama dengan yang kutatap sekarang. Ikon berupa balon percakapan berwarna hijau dengan gambar telepon berwarna putih di tengahnya. Sama, tanpa bunyi.
Akhirnya bunyi itu keluar dari ponselmu. Sekadar pertanyaan alakadarnya yang kulancarkan,”Bagaimana kabar dan pekerjaan yang bernuansa baru? Cukup menyenangkan?”
Dan tidak sampai satu menit, nada yang kutunggu-tunggu, nada Action dengan tingkat volume delapan itu berbunyi satu kali, dua kali. Bunyi pertama menjelaskan bahwa kamu merasa sedikit pusing, tetapi semuanya harus tetap dijalani karena sudah menjadi pekerjaanmu. Bunyi kedua hanya berisi thks singkatan dari thanks ala-mu.
Setelah itu baik aku atau kamu yang berada di balik layar ponselku, berdiam. Menunggu nada berikutnya. Aku yang takut karena merasa sepertinya kamu tidak terlalu menyukai pesanku, sehingga hanya membalas dingin dan singkat, menunggu perkataan selanjutnya darimu. Sementara kamu yang merasa aku tidak peduli lagi padamu, sehingga hanya mengirimkan basa-basi singkat tanpa ingin tahu lebih dalam lagi, menunggu respon dariku.
Menunggu.
Tidak ada pesan lagi. Hening. Tanpa bunyi.
Keduanya saling menunggu.
Rabu, 26 Desember 2012
Hiduplah Seperti Air yang Mengalir
"Yang perlu kamu lakukan saat ini hanya menentukan visi dan misi hidup. Karena hidup juga memiliki visi dan misinya sendiri. Find the purpose by taking your passion. Fokus pada tujuan akhir."
"Bukankah itu bertentangan sekali dengan falsafah kuno yang mengatakan : 'hiduplah seperti air yang mengalir'?"
"Falsafah itu terlalu sering disalah artikan orang. Sesungguhnya, yang dimaksud dengan 'hiduplah seperti air mengalir' bukanlah sekedar hidup dengan mengikuti arus, melainkan : 'jangan pernah kamu biarkan apa yang ada di depanmu menghentikan langkahmu, lihatlah bagaimana air selalu mencari jalan jika di depannya ada bebatuan atau halangan lainnya', bukankah air selalu fokus pada tujuan akhirnya : LAUT."
Padalarang, 26 Desember 2012
"Bukankah itu bertentangan sekali dengan falsafah kuno yang mengatakan : 'hiduplah seperti air yang mengalir'?"
"Falsafah itu terlalu sering disalah artikan orang. Sesungguhnya, yang dimaksud dengan 'hiduplah seperti air mengalir' bukanlah sekedar hidup dengan mengikuti arus, melainkan : 'jangan pernah kamu biarkan apa yang ada di depanmu menghentikan langkahmu, lihatlah bagaimana air selalu mencari jalan jika di depannya ada bebatuan atau halangan lainnya', bukankah air selalu fokus pada tujuan akhirnya : LAUT."
Padalarang, 26 Desember 2012
Rabu, 12 Desember 2012
Plot
Dengan kecepatan delapan puluh kilometer per jam, seorang lelaki membonceng istri dan anaknya yang remaja. Sedari mengantar anak dan istrinya dari pasar, kemudian melintasi jalan-jalan menuju rumah. Matanya lengah. Lubang akibat jalan yang tidak rata luput dari penglihatannya.
GUBRAK!
Sang lelaki terlempar dua kaki. Ke arah yang sama, menyusul sang anak terhimpit sepeda motor yang jatuh kemudian sedikit terseret. Sementara sang istri terpental ke arah yang berbeda. Lelaki itu mencoba bangkit, membantu anaknya yang masih terjebak posisi sepeda motornya. Akhirnya sang anak berhasil berdiri. Belum sempat sang lelaki menuju posisi jatuhnya sang istri, sebuah truk besar yang tidak sempat menghentikan lajunya terlanjur melindas tubuh sang istri. Tubuhnya terbelah dua. Sang lelaki diam. Tidak mampu bergerak. Termasuk sekadar meneteskan air mata.
***
Seorang remaja, bersiul-siul menyusuri jalan dengan sepeda motor yang dikemudikan sang ayah. Tiba-tiba sepeda motor seolah memberontak. Ia terjatuh sambil sedikit terseret. Posisinya tidak menguntungkan. Sebelah kakinya tertimpa bagian body sepeda motor. Ia menjerit kesakitan. Kemudian sang ayah mencoba menolongnya. Ia berdiri, mencari ibu. Tetapi suara mengerikan yang menarik pandangan matanya ke arah lain membuatnya terdiam. Meneteskan air mata tanpa suara. Tubuh sang ibu tergeletak di tanah. Terlindas habis oleh sebuah truk yang tak sempat berhenti.
***
Para remaja lelaki berkumpul di sebuah gubuk pinggiran jalan raya. Dua di antara mereka bermain catur, sisanya ada yang memetik gitar, lainnya bernyanyi. Permainan catur dan gitar mereka berhenti ketika terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Mereka berlari menuju asal suara. Didapatinya seorang lelaki sedang memeluk anaknya sambil menangis. Sementara sesosok perempuan yang tengah menjadi mayat tergeletak di jalanan. Dan satu lagi, sebuah truk yang berhenti tak jauh dari posisi mayat, dengan seorang sopir dan kenek yang masih ada di dalamnya. Para remaja lelaki berhamburan menuju lokasi truk. Siap menerkam. Siap menghancurkan.
***
Sebuah perusahaan menugaskan dua orang kurirnya mengantarkan pesanan pelanggan. Melintas dari jalan raya, menuju jalan bebas hambatan, kemudian kembali melewati jalan penuh hambatan. Satu kiriman untuk hari itu. Tiba-tiba motor di depan mereka terjatuh. Kemudian satu dari penumpangnya terpental menuju truk yang sedang mereka kendarai. Panik menyebar, rem tak terinjak. Bunyi berikutnya memastikan bahwa tubuh perempuan yang terpental barusan tak lagi bernyawa. Di hadapan mereka, dari balik kaca depan, sepasang ayah dan anak saling berpelukan. Mereka ketakutan. Tak mampu melanjutkan perjalanan. Tak mampu juga untuk turun. Ketakutan bertambah ketika sekumpulan warga setempat datang berhamburan. Menuju mereka.
GUBRAK!
Sang lelaki terlempar dua kaki. Ke arah yang sama, menyusul sang anak terhimpit sepeda motor yang jatuh kemudian sedikit terseret. Sementara sang istri terpental ke arah yang berbeda. Lelaki itu mencoba bangkit, membantu anaknya yang masih terjebak posisi sepeda motornya. Akhirnya sang anak berhasil berdiri. Belum sempat sang lelaki menuju posisi jatuhnya sang istri, sebuah truk besar yang tidak sempat menghentikan lajunya terlanjur melindas tubuh sang istri. Tubuhnya terbelah dua. Sang lelaki diam. Tidak mampu bergerak. Termasuk sekadar meneteskan air mata.
***
Seorang remaja, bersiul-siul menyusuri jalan dengan sepeda motor yang dikemudikan sang ayah. Tiba-tiba sepeda motor seolah memberontak. Ia terjatuh sambil sedikit terseret. Posisinya tidak menguntungkan. Sebelah kakinya tertimpa bagian body sepeda motor. Ia menjerit kesakitan. Kemudian sang ayah mencoba menolongnya. Ia berdiri, mencari ibu. Tetapi suara mengerikan yang menarik pandangan matanya ke arah lain membuatnya terdiam. Meneteskan air mata tanpa suara. Tubuh sang ibu tergeletak di tanah. Terlindas habis oleh sebuah truk yang tak sempat berhenti.
***
Para remaja lelaki berkumpul di sebuah gubuk pinggiran jalan raya. Dua di antara mereka bermain catur, sisanya ada yang memetik gitar, lainnya bernyanyi. Permainan catur dan gitar mereka berhenti ketika terdengar suara gaduh yang mencurigakan. Mereka berlari menuju asal suara. Didapatinya seorang lelaki sedang memeluk anaknya sambil menangis. Sementara sesosok perempuan yang tengah menjadi mayat tergeletak di jalanan. Dan satu lagi, sebuah truk yang berhenti tak jauh dari posisi mayat, dengan seorang sopir dan kenek yang masih ada di dalamnya. Para remaja lelaki berhamburan menuju lokasi truk. Siap menerkam. Siap menghancurkan.
***
Sebuah perusahaan menugaskan dua orang kurirnya mengantarkan pesanan pelanggan. Melintas dari jalan raya, menuju jalan bebas hambatan, kemudian kembali melewati jalan penuh hambatan. Satu kiriman untuk hari itu. Tiba-tiba motor di depan mereka terjatuh. Kemudian satu dari penumpangnya terpental menuju truk yang sedang mereka kendarai. Panik menyebar, rem tak terinjak. Bunyi berikutnya memastikan bahwa tubuh perempuan yang terpental barusan tak lagi bernyawa. Di hadapan mereka, dari balik kaca depan, sepasang ayah dan anak saling berpelukan. Mereka ketakutan. Tak mampu melanjutkan perjalanan. Tak mampu juga untuk turun. Ketakutan bertambah ketika sekumpulan warga setempat datang berhamburan. Menuju mereka.
Jumat, 03 Agustus 2012
Bin(a)tang
Jegeg, Ajeng, dan Tugeg, begitu aku memanggil mereka. Anak-anak kecil dengan masing-masing memegang bola kasti dan frisbee di tangan mereka. Aku ini anjing. Mengerikan di mata mereka yang asing baunya untukku, yang asing rupanya untukku, yang mana menatap mataku kemudian mendapati amuk yang murka di balik retina. Menyipit dan siap menyerang. Aku ingat ketika aku nyaris membunuh seorang lelaki.
Aku nyaris membunuhnya. Insting binatangku diselimuti bayangan gelap yang akhirnya jatuh dan menghalangi mataku. Setan kemudian ikut mengolok-olok. Tatapan mata sekawanan teman seolah berubah alih menjadi musuh. Seperti orang yang tidak kukenal, atau aku yang menjadi seekor makhluk yang tidak mereka kenal? Rasanya seperti bebas mengeluarkan semuanya. Aku seekor anjing. Tetapi Jegeg, Ajeng, dan Tugeg, begitu aku memanggil mereka, anak-anak kecil dengan masing-masing memegang bola kasti dan frisbee di tangan mereka. Ketiga anak kecil yang selalu melemparkan benda-benda itu untuk kutangkap. Dan aku tahu, bahwa saat-saat seperti itulah aku merasa pulang.
Cilincing, 2010
Aku nyaris membunuhnya. Insting binatangku diselimuti bayangan gelap yang akhirnya jatuh dan menghalangi mataku. Setan kemudian ikut mengolok-olok. Tatapan mata sekawanan teman seolah berubah alih menjadi musuh. Seperti orang yang tidak kukenal, atau aku yang menjadi seekor makhluk yang tidak mereka kenal? Rasanya seperti bebas mengeluarkan semuanya. Aku seekor anjing. Tetapi Jegeg, Ajeng, dan Tugeg, begitu aku memanggil mereka, anak-anak kecil dengan masing-masing memegang bola kasti dan frisbee di tangan mereka. Ketiga anak kecil yang selalu melemparkan benda-benda itu untuk kutangkap. Dan aku tahu, bahwa saat-saat seperti itulah aku merasa pulang.
Cilincing, 2010
Minggu, 22 Juli 2012
Hitam yang Pengap
Malam ini aku memperhatikannya tertidur. Dadanya teratur turun dan naik seirama suara nafas yang keluar perlahan dari hidung sesekali dari mulutnya disusul satu dua dengkuran kecil. Aku menatap proses naik-turun itu. Konsentrasi seorang anak yang terlalu takut melihat proses itu berhenti karena baru saja matanya disajikan berita kematian tentang seorang artis yang dijemput kematian saat tertidur dari televisi yang dibiarkan lelaki terlelap itu tetap menyala. Entah sengaja untuk mengusir sepi, entah ia lupa.
Wajah yang kutatap ini adalah wajah yang menghabiskan tuanya dengan memandangi gedung mal megah di depan lapak kecil tempatnya menjajakan dagangannya. Setiap keriput memberi ceritanya sendiri. Tempo lalu ayah pulang dengan membawa keluh kesah kepada ibu tentang petugas berseragam yang mengusirnya dari tempat ia biasa berjualan, tetapi ia membawa senyuman untukku dan berpesan,"Besok pasti lebih baik untukmu, Nak."
Jika ayah berkata demikian, artinya ayah belum bisa membawakan sepeda yang selama ini kuinginkan. Apa boleh buat. Aku tak boleh mengeluh. Mereka hanya bidak catur yang diupah oleh pihak yang lebih berkuasa untuk mengusir secara blak-blakan dan mencolok agar demikianlah mereka dilihat bahwa mereka sedang menjalankan tugas negara. Semakin mencolok semakin kelihatan bekerja. Kalau perlu main pukul juga halal untuk mendapat kebanggaan dari seragam yang mereka pakai. Sepertinya itu prinsip mereka untuk memberitahukan perbedaan derajat antara pekerja berseragam seperti mereka dengan pekerja untung-untungan seperti ayah.
Keesokannya, ayah pulang membawa cerita untuk ibu. Kudengar terjadi pembicaraan antara pihak petugas berseragam dengan pihak pengelola mal tempat lapak ayah digelar. Katanya akan diadakan Operasi Sapu Bersih di area itu. Artinya ayah akan kehilangan sumber pencahariannya. Seorang teman ayah yang menolak terpaksa harus rela diambil buah-buahan yang dijajakannya, melihat para petugas tertawa sambil membagi-bagikan buah-buahan yang mereka rampas atas nama negara itu kepada rekan-rekannya.
Diam-diam keesokan harinya aku berencana mengikuti ayah. Aku tidak rela ayah dipukuli. Aku melihat dua orang petugas berseragam duduk sambil meminum es kelapa yang dijajakan salah seorang pedagang kaki lima di sekitar situ. Tapi aku tidak melihat ayah di tempat biasa ia berjualan. Beberapa orang tampak baru saja keluar dari gerbang mal yang letaknya persis di depan lapak ayah. Beberapa menggerutu, menggumam, berceracau kacau, bahkan ada yang menginjak topi yang dilemparkannya sendiri ke tanah tempat ia berdiri. Aha! Itu ayah. Ia mengelap keringatnya.
Seorang petugas yang bertubuh gempal memberi komando. Dua petugas yang tadinya menikmati es kelapa yang dibelinya dari seorang pedagang minuman kaki lima, kini beranjak dari tempatnya. Mereka mendorong jatuh gerobak milik si penjual es kelapa. Mereka seperti pesakit kepribadian ganda yang berubah menjadi alter egonya. Semenit lalu mereka beramah tamah pada pedagang kecil itu, semenit kemudian mereka menjadi serigala baginya.
Aku tidak tahu bagaimana akhir kisah itu karena ayah terburu melihatku. Ia memboyongku pulang ke rumah dan memperingatkan untuk tidak lagi mendatangi tempatnya berjualan. Nafasku sesak melihat peristiwa brutal itu. Seperti gerombolan dubuk hutan yang berani menggonggong keras kepada singa hanya karena mereka bergerombol. Nafasku tersengal-sengal diselingi isak sedu dan sedan. Ayah membopongku pulang, membiarkanku tenang dalam peluknya. Ayah berpesan,"Besok akan lebih baik lagi, Nak." Artinya ayah belum bisa membelikan sepeda yang selama ini kuidamkan.
Malam ini aku memperhatikannya tertidur. Dadanya teratur turun dan naik seirama suara nafas yang keluar perlahan dari hidung sesekali dari mulutnya disusul satu dua dengkuran kecil. Aku menatap proses naik-turun itu. Terlihat air mata mulai berenang di sekitar retina matanya. Jatuh. Aku takut membangunkannya. Aku memutuskan pergi, terbang menjauh. Di hadapanku, aku melihat seorang tua yang sedang berbaring tidur. Dan aku semakin tinggi menuju awang-awang. Menuju ketidakhadiranku lagi di dunia. Terakhir kali nafas sesakku tidak lagi terselamatkan karena ternyata hari esok yang ayah katakan tidak juga menjadi lebih baik untukku. Aku tiba di rumah tanpa nyawa dalam pelukan ayah.
Lelaki ini hanya ingin membelikanku sepeda setidaknya untuk memberi kebahagiaan kecil dalam hidupku mengingat biayaku untuk berobat yang menjerat keuangannya terlalu mustahil untuk ia penuhi. Televisi masih menyala, kali ini acara religi panggilan Shalat Subuh membangunkan ayah. Dan aku yang di awang-awang, mendoakan ayah agar hari ini benar-benar menjadi lebih baik.
Wajah yang kutatap ini adalah wajah yang menghabiskan tuanya dengan memandangi gedung mal megah di depan lapak kecil tempatnya menjajakan dagangannya. Setiap keriput memberi ceritanya sendiri. Tempo lalu ayah pulang dengan membawa keluh kesah kepada ibu tentang petugas berseragam yang mengusirnya dari tempat ia biasa berjualan, tetapi ia membawa senyuman untukku dan berpesan,"Besok pasti lebih baik untukmu, Nak."
Jika ayah berkata demikian, artinya ayah belum bisa membawakan sepeda yang selama ini kuinginkan. Apa boleh buat. Aku tak boleh mengeluh. Mereka hanya bidak catur yang diupah oleh pihak yang lebih berkuasa untuk mengusir secara blak-blakan dan mencolok agar demikianlah mereka dilihat bahwa mereka sedang menjalankan tugas negara. Semakin mencolok semakin kelihatan bekerja. Kalau perlu main pukul juga halal untuk mendapat kebanggaan dari seragam yang mereka pakai. Sepertinya itu prinsip mereka untuk memberitahukan perbedaan derajat antara pekerja berseragam seperti mereka dengan pekerja untung-untungan seperti ayah.
Keesokannya, ayah pulang membawa cerita untuk ibu. Kudengar terjadi pembicaraan antara pihak petugas berseragam dengan pihak pengelola mal tempat lapak ayah digelar. Katanya akan diadakan Operasi Sapu Bersih di area itu. Artinya ayah akan kehilangan sumber pencahariannya. Seorang teman ayah yang menolak terpaksa harus rela diambil buah-buahan yang dijajakannya, melihat para petugas tertawa sambil membagi-bagikan buah-buahan yang mereka rampas atas nama negara itu kepada rekan-rekannya.
Diam-diam keesokan harinya aku berencana mengikuti ayah. Aku tidak rela ayah dipukuli. Aku melihat dua orang petugas berseragam duduk sambil meminum es kelapa yang dijajakan salah seorang pedagang kaki lima di sekitar situ. Tapi aku tidak melihat ayah di tempat biasa ia berjualan. Beberapa orang tampak baru saja keluar dari gerbang mal yang letaknya persis di depan lapak ayah. Beberapa menggerutu, menggumam, berceracau kacau, bahkan ada yang menginjak topi yang dilemparkannya sendiri ke tanah tempat ia berdiri. Aha! Itu ayah. Ia mengelap keringatnya.
Seorang petugas yang bertubuh gempal memberi komando. Dua petugas yang tadinya menikmati es kelapa yang dibelinya dari seorang pedagang minuman kaki lima, kini beranjak dari tempatnya. Mereka mendorong jatuh gerobak milik si penjual es kelapa. Mereka seperti pesakit kepribadian ganda yang berubah menjadi alter egonya. Semenit lalu mereka beramah tamah pada pedagang kecil itu, semenit kemudian mereka menjadi serigala baginya.
Aku tidak tahu bagaimana akhir kisah itu karena ayah terburu melihatku. Ia memboyongku pulang ke rumah dan memperingatkan untuk tidak lagi mendatangi tempatnya berjualan. Nafasku sesak melihat peristiwa brutal itu. Seperti gerombolan dubuk hutan yang berani menggonggong keras kepada singa hanya karena mereka bergerombol. Nafasku tersengal-sengal diselingi isak sedu dan sedan. Ayah membopongku pulang, membiarkanku tenang dalam peluknya. Ayah berpesan,"Besok akan lebih baik lagi, Nak." Artinya ayah belum bisa membelikan sepeda yang selama ini kuidamkan.
Malam ini aku memperhatikannya tertidur. Dadanya teratur turun dan naik seirama suara nafas yang keluar perlahan dari hidung sesekali dari mulutnya disusul satu dua dengkuran kecil. Aku menatap proses naik-turun itu. Terlihat air mata mulai berenang di sekitar retina matanya. Jatuh. Aku takut membangunkannya. Aku memutuskan pergi, terbang menjauh. Di hadapanku, aku melihat seorang tua yang sedang berbaring tidur. Dan aku semakin tinggi menuju awang-awang. Menuju ketidakhadiranku lagi di dunia. Terakhir kali nafas sesakku tidak lagi terselamatkan karena ternyata hari esok yang ayah katakan tidak juga menjadi lebih baik untukku. Aku tiba di rumah tanpa nyawa dalam pelukan ayah.
Lelaki ini hanya ingin membelikanku sepeda setidaknya untuk memberi kebahagiaan kecil dalam hidupku mengingat biayaku untuk berobat yang menjerat keuangannya terlalu mustahil untuk ia penuhi. Televisi masih menyala, kali ini acara religi panggilan Shalat Subuh membangunkan ayah. Dan aku yang di awang-awang, mendoakan ayah agar hari ini benar-benar menjadi lebih baik.
Kamis, 07 Juni 2012
Work Hard Play Hard
Barangkali kata yang paling pas untuk semua makhluk di bumi dalam membunuh waktu luang, lari dari rutinitas, dan berkomunikasi secara universal antar makhluk adalah 'bermain'.
Lihat bagaimana wahana permainan di berbagai objek wisata dipenuhi manusia dari segala usia yang ingin memuaskan hasratnya untuk berteriak selepas-lepasnya. Tidak ada ruginya bagi mereka jika tidak menyelesaikan prosedur antrian panjang yang lama dan membosankan, tetapi mereka melakukannya meski harus berpanas-panas dan berpeluh keringat. Hanya untuk satu tujuan : 'bermain'.
Perhatikan bagaimana seorang anak yang baru pulang sekolah langsung berlari menghampiri kucing kesayangannya dan mengajaknya bermain lempar bola. Seolah permainan yang mereka lakukan itu menjadi bahasa pemersatu antara manusia dan hewan.
Atau lihat kompetisi empat tahunan ajang dunia yang memaksa semua mata manusia menatap ke arah satu benda yang mampu menghipnotis seluruh umat manusia yang menggilainya. Kejuaraan sepak bola kelas dunia yang sebentar lagi akan digelar, bukan hanya berbicara tentang pekerjaan bagi setiap atlet kelas atas saling berebut piala untuk menaikkan karirnya atau melejitkan namanya sebagai pemain papan atas. Kejuaraan itu bisa dilihat sebagai wahana permainan yang dipenuhi passion seluruh pesertanya untuk menggenapi fantasi dan imajinasi mereka di lapangan hijau, seperti atraksi seorang kiper menghalau bola hasil tendangan lawan ke arah gawangnya dengan kakinya seperti yang pernah dilakukan Rene Higuita, kiper Kolombia yang terkenal dengan penyelamatan tendangan kalajengkingnya. Atau David Beckham yang mencetak gol dari tengah lapangan, di mana jika saja tendangannya saat itu tidak membuahkan gol tentunya semua orang akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya hanyalah aksi putus asa atau mungkin sebagian lagi akan berkomentar,"Seharusnya dia menggiring bola lebih ke dalam lagi atau mengoper bola kepada rekannya."
Dalam pertandingan sepak bola selalu saja ada sosok fantasista yang menghadirkan permainan ajaib di luar dugaan yang mampu membuat hati para penggilanya berdegup kencang penuh rasa penasaran dan pertanyaan seperti,"Permainan macam apa yang akan kau perlihatkan hari ini?"
Dari sisi sosial, sepak bola telah menjelma dari sekedar olahraga yang dipertandingkan menjadi satu media pemersatu segala ras dan budaya. Terlihat dari spanduk-spanduk bertuliskan "No Racism" yang sering dikibarkan para penonton di stadion. Sepak bola juga menjadi lambang cinta dan berbagi dalam penerapannya bahwa team work dan kematangan emosi pemain menentukan kemenangan sebuah tim.
Jadi, sudahkah kamu menentukan siapa fantasistamu tanpa memikirkan dari negara mana dia berasal? Let football unites the difference!
Pesan bersenang-senang, kebersamaan, celebration and sharing the love terlihat dalam pesta olahraga akbar ini. Euro 2012 merepresentasikan hal-hal yang disebutkan tadi, karena kompetisi dunia ini bukan soal siapa melawan siapa, tetapi ada kesenangan dari kebersamaan yang terbentuk dengan diadakannya kejuaraan dunia ini.
"Adidas is (A)ll (d)ay (I) (d)ream (a)bout (s)occer." -David Beckham, seorang ambassador merk perlengkapan olahraga terkenal Adidas.
Kick off!
Lihat bagaimana wahana permainan di berbagai objek wisata dipenuhi manusia dari segala usia yang ingin memuaskan hasratnya untuk berteriak selepas-lepasnya. Tidak ada ruginya bagi mereka jika tidak menyelesaikan prosedur antrian panjang yang lama dan membosankan, tetapi mereka melakukannya meski harus berpanas-panas dan berpeluh keringat. Hanya untuk satu tujuan : 'bermain'.
Perhatikan bagaimana seorang anak yang baru pulang sekolah langsung berlari menghampiri kucing kesayangannya dan mengajaknya bermain lempar bola. Seolah permainan yang mereka lakukan itu menjadi bahasa pemersatu antara manusia dan hewan.
Atau lihat kompetisi empat tahunan ajang dunia yang memaksa semua mata manusia menatap ke arah satu benda yang mampu menghipnotis seluruh umat manusia yang menggilainya. Kejuaraan sepak bola kelas dunia yang sebentar lagi akan digelar, bukan hanya berbicara tentang pekerjaan bagi setiap atlet kelas atas saling berebut piala untuk menaikkan karirnya atau melejitkan namanya sebagai pemain papan atas. Kejuaraan itu bisa dilihat sebagai wahana permainan yang dipenuhi passion seluruh pesertanya untuk menggenapi fantasi dan imajinasi mereka di lapangan hijau, seperti atraksi seorang kiper menghalau bola hasil tendangan lawan ke arah gawangnya dengan kakinya seperti yang pernah dilakukan Rene Higuita, kiper Kolombia yang terkenal dengan penyelamatan tendangan kalajengkingnya. Atau David Beckham yang mencetak gol dari tengah lapangan, di mana jika saja tendangannya saat itu tidak membuahkan gol tentunya semua orang akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya hanyalah aksi putus asa atau mungkin sebagian lagi akan berkomentar,"Seharusnya dia menggiring bola lebih ke dalam lagi atau mengoper bola kepada rekannya."
Dalam pertandingan sepak bola selalu saja ada sosok fantasista yang menghadirkan permainan ajaib di luar dugaan yang mampu membuat hati para penggilanya berdegup kencang penuh rasa penasaran dan pertanyaan seperti,"Permainan macam apa yang akan kau perlihatkan hari ini?"
Dari sisi sosial, sepak bola telah menjelma dari sekedar olahraga yang dipertandingkan menjadi satu media pemersatu segala ras dan budaya. Terlihat dari spanduk-spanduk bertuliskan "No Racism" yang sering dikibarkan para penonton di stadion. Sepak bola juga menjadi lambang cinta dan berbagi dalam penerapannya bahwa team work dan kematangan emosi pemain menentukan kemenangan sebuah tim.
Jadi, sudahkah kamu menentukan siapa fantasistamu tanpa memikirkan dari negara mana dia berasal? Let football unites the difference!
Pesan bersenang-senang, kebersamaan, celebration and sharing the love terlihat dalam pesta olahraga akbar ini. Euro 2012 merepresentasikan hal-hal yang disebutkan tadi, karena kompetisi dunia ini bukan soal siapa melawan siapa, tetapi ada kesenangan dari kebersamaan yang terbentuk dengan diadakannya kejuaraan dunia ini.
"Adidas is (A)ll (d)ay (I) (d)ream (a)bout (s)occer." -David Beckham, seorang ambassador merk perlengkapan olahraga terkenal Adidas.
Kick off!
Langganan:
Postingan (Atom)

