Ini adalah kumpulan cerita yang saya tulis sambil menggauli insomnia. Selamat membaca dan menyimaknya. Semoga berkenan dan akhirnya bersedia meninggalkan komentar.
Jumat, 01 Juni 2012
Romansa Tanpa Konsep
Tidak ada yang salah dengan konsep seorang matematikawan yang mencinta warna jatuh cinta kepada pelukis yang gemar menggambar angka. Matematikawan yang ahli menata warna dalam setiap penerapan dan implementasi dari kombinasi hasil hitung dan rumusan Pythagoras-nya. Sementara sang pelukis gemar mencetak angka dari permainan kuas di atas kanvas. Tidak nyambung! Tetapi demikianlah cara romansa sering hadir dan tidak jarang membuat keduanya melambung. Bukankah romansa itu serba bingung dan tak mampu diperhitungkan? Jika romantika bisa diukur dengan matematika, hasilnya pastilah Determinan dengan akar-akar tidak riil yang imajiner, tidak terdefinisi.
Senin, 23 Januari 2012
(Sun)flower
Sebelum para penyair modern merepresentasikan makna-makna tentang bunga seperti Tulip, Amaryllis, hingga Bunga Matahari, para penyair Yunani Kuno telah lama menyajikan makna-makna bunga itu dengan kisah sentuhan mereka.
Kisah ini hidup pada zaman di mana seorang penyair Yunani bernama Homerus hidup dengan mengemas kisah perang ke dalam kisah Odyssey.
Kisah dimulai dari seorang Clytie yang mencintai Apolon, sang Dewa Matahari. Namun Apolon tidak mencintai Clytie. Hal ini menyebabkan kesedihan mendalam di hati Clytie. Sembilan hari lamanya ia hanya duduk sendirian dan tidak mau makan maupun minum. Satu-satunya makanan hanyalah air mata dan embun yang dingin. Dan satu-satunya hal yang ia lakukan dalam kesendiriannya itu hanyalah memandang matahari.
Clytie menatap pada matahari ketika dia naik hingga terbenam, demikian ia melalui hari-harinya. Ia tidak melihat benda lain, wajahnya terus memandang kepadanya. Memperhatikan matahari yang dicintainya itu.
Akhirnya, anggota tubuh bagian bawahnya menembus tanah, mengakar di dalamnya. Wajahnya berubah menyerupai apa yang selama ini dipandangnya sepanjang hari, menjadi bunga matahari. Kemudian tubuhnya berubah menjadi batang. Ia selalu menghadap matahari selama berhari-hari. Ia menjadi bunga matahari yang hingga kini masih menyimpan cintanya kepada matahari.
Demikianlah bunga matahari yang selalu mengikuti kemanapun cahaya matahari itu pergi, menjadi lambang keteguhan hati dan kesetiaan dengan filosofi modern :
SELALU MEMPERHATIKANMU.
Kisah ini hidup pada zaman di mana seorang penyair Yunani bernama Homerus hidup dengan mengemas kisah perang ke dalam kisah Odyssey.
Kisah dimulai dari seorang Clytie yang mencintai Apolon, sang Dewa Matahari. Namun Apolon tidak mencintai Clytie. Hal ini menyebabkan kesedihan mendalam di hati Clytie. Sembilan hari lamanya ia hanya duduk sendirian dan tidak mau makan maupun minum. Satu-satunya makanan hanyalah air mata dan embun yang dingin. Dan satu-satunya hal yang ia lakukan dalam kesendiriannya itu hanyalah memandang matahari.
Clytie menatap pada matahari ketika dia naik hingga terbenam, demikian ia melalui hari-harinya. Ia tidak melihat benda lain, wajahnya terus memandang kepadanya. Memperhatikan matahari yang dicintainya itu.
Akhirnya, anggota tubuh bagian bawahnya menembus tanah, mengakar di dalamnya. Wajahnya berubah menyerupai apa yang selama ini dipandangnya sepanjang hari, menjadi bunga matahari. Kemudian tubuhnya berubah menjadi batang. Ia selalu menghadap matahari selama berhari-hari. Ia menjadi bunga matahari yang hingga kini masih menyimpan cintanya kepada matahari.
Demikianlah bunga matahari yang selalu mengikuti kemanapun cahaya matahari itu pergi, menjadi lambang keteguhan hati dan kesetiaan dengan filosofi modern :
SELALU MEMPERHATIKANMU.
Kamis, 12 Januari 2012
Gemini
Jika pagi hingga sore adalah medan peperangan antara tenaga dan pikiranku, maka malam merupakan medan pertem(p)u(r)an antara jiwa dan pikiranku. Pertempuran batin atau pertemuan batin, aku sendiri tidak mengerti. Apakah esok aku harus menampilkan sosok diriku apa adanya? Atau aku perlu mengaktifkan sisi androgini dari diriku? Sisi kelelakianku atau sisi kewanitaanku? Separuh dari mereka menyebutku moody, separuhnya lagi menyebutku freak. Tetapi aku menyebut diriku : 'Gemini'.
Selasa, 10 Januari 2012
You Complete Me
Apa itu kesempurnaan? Barangkali jawaban yang pertama kali melompat keluar seketika dari kepala kita saat mendengar pertanyaan itu adalah bahwa kesempurnaan merupakan segala hal yang dipenuhi kebaikan secara mutlak. Dalam tulisannya, seorang guru sufi menjawab sangkaan itu dengan jawaban,"Tidak."
Menurutnya kesempurnaan adalah yang hitam tetapi sekaligus putih, kebahagiaan sekaligus juga kesedihan, ketiadaan sekaligus juga keberadaan. Katanya kesempurnaan bukan yang hanya dipenuhi dengan hal baik saja. Bukankah kita menyebut Tuhan itu Maha Sempurna? Kebaikan-Nya melampaui kebaikan makhluk manapun. Tak seorang pun manusia mampu melakukan kebaikan melebihi kebaikan-Nya.
Guru sufi itu menjelaskan, jika kesempurnaan itu hanya berisi hal baik, apakah artinya jika ada orang yang demikian jahatnya akan membuat kita takut kepadanya melebihi ketakutan kita kepada Tuhan? Tidak. Bukankah Tuhan bisa melakukan hal yang mampu menaklukkan kengerian yang bisa ditimbulkan oleh manusia manapun? Tuhan Maha Sempurna, Ia-lah pemilik segala nilai kehidupan.
Apakah itu artinya kesempurnaan merupakan perpaduan harmonis dan apik antara beberapa hal yang berlawanan? Bukankah untuk menjadi 'genap' dibutuhkan 'ganjil'? Bukankah dua potong magnet bisa merekat sempurna karena adanya dua kutub yang berlawanan? Bukankah tanpa ada penjahat seperti Joker, maka Batman bukanlah apa-apa?
Demikianlah aku menyampaikan pengertian tentang kesempurnaan ini kepadamu, karena aku ingin mengatakan,"Mencintaimu telah menggenapkanku, mengisi yang tidak ada padaku menjadi ada padaku. You complete me."
Menurutnya kesempurnaan adalah yang hitam tetapi sekaligus putih, kebahagiaan sekaligus juga kesedihan, ketiadaan sekaligus juga keberadaan. Katanya kesempurnaan bukan yang hanya dipenuhi dengan hal baik saja. Bukankah kita menyebut Tuhan itu Maha Sempurna? Kebaikan-Nya melampaui kebaikan makhluk manapun. Tak seorang pun manusia mampu melakukan kebaikan melebihi kebaikan-Nya.
Guru sufi itu menjelaskan, jika kesempurnaan itu hanya berisi hal baik, apakah artinya jika ada orang yang demikian jahatnya akan membuat kita takut kepadanya melebihi ketakutan kita kepada Tuhan? Tidak. Bukankah Tuhan bisa melakukan hal yang mampu menaklukkan kengerian yang bisa ditimbulkan oleh manusia manapun? Tuhan Maha Sempurna, Ia-lah pemilik segala nilai kehidupan.
Apakah itu artinya kesempurnaan merupakan perpaduan harmonis dan apik antara beberapa hal yang berlawanan? Bukankah untuk menjadi 'genap' dibutuhkan 'ganjil'? Bukankah dua potong magnet bisa merekat sempurna karena adanya dua kutub yang berlawanan? Bukankah tanpa ada penjahat seperti Joker, maka Batman bukanlah apa-apa?
Demikianlah aku menyampaikan pengertian tentang kesempurnaan ini kepadamu, karena aku ingin mengatakan,"Mencintaimu telah menggenapkanku, mengisi yang tidak ada padaku menjadi ada padaku. You complete me."
L-o-o-n-e-y
Pernah sekali waktu ketika aku menghabiskan malam di tengah keramaian sebuah kafe yang dihidupkan oleh permainan apik dari konser musik hidup yang dibawakan band muda yang belum ternama. Di sekitarku tampak beberapa orang, mulai dari yang muda hingga yang berusia, yang laki-laki, yang perempuan, bahkan hingga yang keduanya. Mereka tertawa, melepas penat, meneguk larutan hasil kombinasi antara sari buah dan alkohol. Memabukkan dan mampu membawa mereka ke alam yang mereka cari, alam setengah sadar sampai alam tak sadar. Tetapi tunggu dulu...
Pause
Kau tahu? Sejenak tadi aku melihat ada kekosongan di mata mereka. Seorang laki-laki yang sedari tadi tertawa paling keras, sekilas terlihat melamunkan sesuatu, memperhatikan gelas beningnya yang berkeringat oleh es batu yang mengembun dengan pandangan kosong. Seorang wanita yang sedari tadi berkomat-kamit ceria melantunkan lirik lagu yang dibawakan kawanan pemain band, sejenak terlihat menitikkan air mata. Apa yang mereka rasakan sesungguhnya?
Play
Ya, siapa yang tahu? Bukankah demikian kau juga menceritakannya kepadaku, bahwa kau melewati hidupmu dengan kekuatan yang kau pertahankan sepanjang hari di depan orang lain agar kau selalu tampak kuat dan ceria, hingga malam datang dan menyisakan dirimu hanya seorang, kemudian baru kau terbebas dari pertahananmu itu? Lalu kau log in ke duniamu yang sebenarnya dengan kata sandi yang selama ini tersimpan di dalam hatimu yang paling dalam :
L-o-o-n-e-y
Log out
Pause
Kau tahu? Sejenak tadi aku melihat ada kekosongan di mata mereka. Seorang laki-laki yang sedari tadi tertawa paling keras, sekilas terlihat melamunkan sesuatu, memperhatikan gelas beningnya yang berkeringat oleh es batu yang mengembun dengan pandangan kosong. Seorang wanita yang sedari tadi berkomat-kamit ceria melantunkan lirik lagu yang dibawakan kawanan pemain band, sejenak terlihat menitikkan air mata. Apa yang mereka rasakan sesungguhnya?
Play
Ya, siapa yang tahu? Bukankah demikian kau juga menceritakannya kepadaku, bahwa kau melewati hidupmu dengan kekuatan yang kau pertahankan sepanjang hari di depan orang lain agar kau selalu tampak kuat dan ceria, hingga malam datang dan menyisakan dirimu hanya seorang, kemudian baru kau terbebas dari pertahananmu itu? Lalu kau log in ke duniamu yang sebenarnya dengan kata sandi yang selama ini tersimpan di dalam hatimu yang paling dalam :
L-o-o-n-e-y
Log out
Minggu, 20 November 2011
I'm Done!
Zaman menjadikan beberapa manusia termasuk aku menjadi seperti mesin pabrik, turn on dan turn off pada waktu yang tentu dan yang ditetapkan. Seperti pagi ini, bunyi 'kring' yang keluar dari alarm yang kuaktifkan semalam seolah membentur-benturkan kepalaku, sepertinya jika ia memiliki tangan, ia sudah mencengkeramkan kedua tangannya pada kerah baju tidurku lalu menarik-nariknya mencoba menyadarkanku agar lekas sadar dari alam bawah sadar. Dari mimpi.
***
Setelah diberondong air pancuran di kamar mandi yang sengaja kusetel dingin, guna menyadarkanku bahwa aku sedang dalam situasi 'menuju jam terlambat', aku mengenakan pakaian sekenanya. Memacu diri kembali ke aktifitas sehari-hari di tempat kerja. Tahukah kalian bagian dari pekerjaanku yang paling mengerikan dan yang sangat kuhindari sebisa mungkin? Merangkai bunga. Kuulangi, me-rang-kai bu-nga. Aku tidak seperti Radu yang menguasai Ikebana dengan sempurna. Mendalami ilmu merangkai bunga adalah bagian dari hidupnya. Tetapi aku? Super kuhindari. Me-nge-ri-kan.
Hari ini nyaris sempurna jika tidak ada malapetaka yang menimpaku. Dia masuk. Ibu-ibu yang kelihatannya sedang mengandung itu masuk ke dalam store tempatku mencari nafkah. Matanya memperhatikan setiap tatanan bunga yang memang sengaja dirangkai sedemikian rupa untuk menarik minat si pembeli. God dammit, aku sendirian. Teman-temanku sedang menginput laporan hasil penjualan kami seharian ini. Sebentar lagi memang jam pulang, dan kali ini sepertinya firasat burukku tidak salah. Mata si ibu mulai berkeliling, mencari vas yang sekiranya seolah-olah bisa memuaskan pencariannya selama berjuta tahun lamanya. Dan aku, meski ragu, tetap maju. "Ada yang bisa saya bantu?" keringat dingin mulai tumpah.
"Vas dengan tinggi kurang lebih lima puluh sentimeter dan bunga dengan tinggi sekitar enam puluh sentimeter. Adakah?"
Perfect! ujarku dalam hati, ternyata kekhawatiranku benar. Mimpi buruk datang.
"Harus tepat?" Tanyaku.
"Tidak juga. Asal mendekati. Saya sendiri pusing mencarinya."
Aku mengambilkannya vas setinggi kurang lebih hampir mencapai lima puluh sentimeter dan beberapa tangkai Amaryllis, lalu menunjukkannya kepada si ibu.
"Rangkaikan." katanya pendek namun mematikan.
Diawali dengan ritual tak kasat mata, ingat, kubilang tak kasat mata, sehingga ritualku tentu tak disadari si ibu, kemudian kutiru gerakan teman-teman seprofesiku yang masih kuingat. Tidak mirip memang, berkesan mengasal, yang penting tidak ketahuan asal, begitu prinsipku. Kini menunggu keputusan juri, penilaian mutlak panitia bernama si ibu yang tidak bisa diganggu gugat hasil keputusannya.
"Saya beli ini. Semuanya." Seperti merasa menjadi salah satu anggota kesebelasan sepak bola yang baru saja memenangkan kejuaraan dunia empat tahunan, aku mengangkat vas itu menuju meja kasir seperti membawa Piala Dunia pulang ke negaraku.
Perjuangan yang super melelahkan bagiku ini, diakhiri dengan perpaduan harmonis antara bunyi cenit kasir dan bunyi struk keluar dari mesin struk kasir. I'm done!
Me-nge-ri-kan.
***
Setelah diberondong air pancuran di kamar mandi yang sengaja kusetel dingin, guna menyadarkanku bahwa aku sedang dalam situasi 'menuju jam terlambat', aku mengenakan pakaian sekenanya. Memacu diri kembali ke aktifitas sehari-hari di tempat kerja. Tahukah kalian bagian dari pekerjaanku yang paling mengerikan dan yang sangat kuhindari sebisa mungkin? Merangkai bunga. Kuulangi, me-rang-kai bu-nga. Aku tidak seperti Radu yang menguasai Ikebana dengan sempurna. Mendalami ilmu merangkai bunga adalah bagian dari hidupnya. Tetapi aku? Super kuhindari. Me-nge-ri-kan.
Hari ini nyaris sempurna jika tidak ada malapetaka yang menimpaku. Dia masuk. Ibu-ibu yang kelihatannya sedang mengandung itu masuk ke dalam store tempatku mencari nafkah. Matanya memperhatikan setiap tatanan bunga yang memang sengaja dirangkai sedemikian rupa untuk menarik minat si pembeli. God dammit, aku sendirian. Teman-temanku sedang menginput laporan hasil penjualan kami seharian ini. Sebentar lagi memang jam pulang, dan kali ini sepertinya firasat burukku tidak salah. Mata si ibu mulai berkeliling, mencari vas yang sekiranya seolah-olah bisa memuaskan pencariannya selama berjuta tahun lamanya. Dan aku, meski ragu, tetap maju. "Ada yang bisa saya bantu?" keringat dingin mulai tumpah.
"Vas dengan tinggi kurang lebih lima puluh sentimeter dan bunga dengan tinggi sekitar enam puluh sentimeter. Adakah?"
Perfect! ujarku dalam hati, ternyata kekhawatiranku benar. Mimpi buruk datang.
"Harus tepat?" Tanyaku.
"Tidak juga. Asal mendekati. Saya sendiri pusing mencarinya."
Aku mengambilkannya vas setinggi kurang lebih hampir mencapai lima puluh sentimeter dan beberapa tangkai Amaryllis, lalu menunjukkannya kepada si ibu.
"Rangkaikan." katanya pendek namun mematikan.
Diawali dengan ritual tak kasat mata, ingat, kubilang tak kasat mata, sehingga ritualku tentu tak disadari si ibu, kemudian kutiru gerakan teman-teman seprofesiku yang masih kuingat. Tidak mirip memang, berkesan mengasal, yang penting tidak ketahuan asal, begitu prinsipku. Kini menunggu keputusan juri, penilaian mutlak panitia bernama si ibu yang tidak bisa diganggu gugat hasil keputusannya.
"Saya beli ini. Semuanya." Seperti merasa menjadi salah satu anggota kesebelasan sepak bola yang baru saja memenangkan kejuaraan dunia empat tahunan, aku mengangkat vas itu menuju meja kasir seperti membawa Piala Dunia pulang ke negaraku.
Perjuangan yang super melelahkan bagiku ini, diakhiri dengan perpaduan harmonis antara bunyi cenit kasir dan bunyi struk keluar dari mesin struk kasir. I'm done!
Me-nge-ri-kan.
Minggu, 09 Oktober 2011
Radu
Mataku mencari-cari sosok Radu di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang lalu pergi di pasar bunga bilangan Jakarta Barat, tempatku berada sekarang. Aku tidak menemukan Radu. Tidak di kantin kecil tempat biasa dia menyesap kopi, tidak juga di toko bunga sederhana yang ia kelola bersama putranya yang sulung. Aku hanya menemukan sesosok pria kekar berkumis tebal sedang duduk di kursi rotan sambil merokok, tepat di depan pintu masuk toko milik Radu.
"Maaf, Pak. Apa anda melihat Radu?" Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
"Ah, seperti biasa, ia sedang di kebun belakang di rumahnya."
Setelah sampai di rumah Radu yang tidak jauh dari sana, aku mengucap permisi kepada mereka yang tinggal di dalam rumah itu, keluarga Radu. Kemudian aku mendapati Radu sedang memetik beberapa tangkai bunga matahari dari kebun belakang rumahnya. Ia melihat kedatanganku.
"Aku sedang menyiapkan pesananmu." Sapanya kepadaku.
"Bunga-bunga itu yang kupesan kemarin?"
"Ya, masih segar dan baru saja kupetik. Kupilih yang terbaik."
"Terima kasih, Radu. Kau penjual bunga terbaik yang pernah kutemui."
"Omong-omong mengapa kau memilih bunga ini?"
"Radu, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa selama ini kau berfilosofi tentang macam-macam bunga, kemudian kau menjual kisah itu kepada mereka yang sedang dimabuk asmara dengan harapan mereka tertarik membeli bungamu? Aku tertarik pada kisahmu tentang bunga yang kaupegang itu."
Radu tertawa. Ia menyipitkan matanya, menatapku tajam,"Kau sungguh-sungguh?"
"Aku sungguh-sungguh. Seperti kelopaknya yang selalu mengikuti kemanapun cahaya matahari pergi, demikianlah bunga matahari, artinya 'selalu memperhatikanmu'. Dan aku sudah menemukan seorang matahari untukku, Radu. Seorang yang membuatku ingin terus memperhatikannya. Seperti bunga matahari yang selalu mengikuti cahaya matahari pergi itu." Jawabku kepadanya.
Radu tertawa, lantas berujar,"Kau jatuh cinta?"
Aku tidak menanggapinya.
Ia menimpali,"Omong-omong apa kau tahu persamaan antara jatuh cinta dan menulis?"
Aku semakin heran dengan perkataannya.
"Dengar, jatuh cinta dan menulis itu adalah dua hal yang memiliki persamaan di awalnya. Seperti sulitnya menemukan kata pembuka untuk memulai sebuah tulisan, saat jatuh cinta pun kau akan mendapatkan kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat untuk mengawalinya, untuk mengutarakannya. Setelah selesai dengan awalnya, kau cukup melanjutkannya sesuai perasaanmu." Radu tertawa kemudian mengajakku kembali ke tokonya.
Ia merangkaikan untukku sembilan tangkai bunga matahari sambil berkata,"Ikutilah kemanapun cahaya matahari itu pergi."
Juni, 2011
"Maaf, Pak. Apa anda melihat Radu?" Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.
"Ah, seperti biasa, ia sedang di kebun belakang di rumahnya."
Setelah sampai di rumah Radu yang tidak jauh dari sana, aku mengucap permisi kepada mereka yang tinggal di dalam rumah itu, keluarga Radu. Kemudian aku mendapati Radu sedang memetik beberapa tangkai bunga matahari dari kebun belakang rumahnya. Ia melihat kedatanganku.
"Aku sedang menyiapkan pesananmu." Sapanya kepadaku.
"Bunga-bunga itu yang kupesan kemarin?"
"Ya, masih segar dan baru saja kupetik. Kupilih yang terbaik."
"Terima kasih, Radu. Kau penjual bunga terbaik yang pernah kutemui."
"Omong-omong mengapa kau memilih bunga ini?"
"Radu, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa selama ini kau berfilosofi tentang macam-macam bunga, kemudian kau menjual kisah itu kepada mereka yang sedang dimabuk asmara dengan harapan mereka tertarik membeli bungamu? Aku tertarik pada kisahmu tentang bunga yang kaupegang itu."
Radu tertawa. Ia menyipitkan matanya, menatapku tajam,"Kau sungguh-sungguh?"
"Aku sungguh-sungguh. Seperti kelopaknya yang selalu mengikuti kemanapun cahaya matahari pergi, demikianlah bunga matahari, artinya 'selalu memperhatikanmu'. Dan aku sudah menemukan seorang matahari untukku, Radu. Seorang yang membuatku ingin terus memperhatikannya. Seperti bunga matahari yang selalu mengikuti cahaya matahari pergi itu." Jawabku kepadanya.
Radu tertawa, lantas berujar,"Kau jatuh cinta?"
Aku tidak menanggapinya.
Ia menimpali,"Omong-omong apa kau tahu persamaan antara jatuh cinta dan menulis?"
Aku semakin heran dengan perkataannya.
"Dengar, jatuh cinta dan menulis itu adalah dua hal yang memiliki persamaan di awalnya. Seperti sulitnya menemukan kata pembuka untuk memulai sebuah tulisan, saat jatuh cinta pun kau akan mendapatkan kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat untuk mengawalinya, untuk mengutarakannya. Setelah selesai dengan awalnya, kau cukup melanjutkannya sesuai perasaanmu." Radu tertawa kemudian mengajakku kembali ke tokonya.
Ia merangkaikan untukku sembilan tangkai bunga matahari sambil berkata,"Ikutilah kemanapun cahaya matahari itu pergi."
Juni, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)