Selasa, 10 Januari 2012

You Complete Me

Apa itu kesempurnaan? Barangkali jawaban yang pertama kali melompat keluar seketika dari kepala kita saat mendengar pertanyaan itu adalah bahwa kesempurnaan merupakan segala hal yang dipenuhi kebaikan secara mutlak. Dalam tulisannya, seorang guru sufi menjawab sangkaan itu dengan jawaban,"Tidak."

Menurutnya kesempurnaan adalah yang hitam tetapi sekaligus putih, kebahagiaan sekaligus juga kesedihan, ketiadaan sekaligus juga keberadaan. Katanya kesempurnaan bukan yang hanya dipenuhi dengan hal baik saja. Bukankah kita menyebut Tuhan itu Maha Sempurna? Kebaikan-Nya melampaui kebaikan makhluk manapun. Tak seorang pun manusia mampu melakukan kebaikan melebihi kebaikan-Nya.

Guru sufi itu menjelaskan, jika kesempurnaan itu hanya berisi hal baik, apakah artinya jika ada orang yang demikian jahatnya akan membuat kita takut kepadanya melebihi ketakutan kita kepada Tuhan? Tidak. Bukankah Tuhan bisa melakukan hal yang mampu menaklukkan kengerian yang bisa ditimbulkan oleh manusia manapun? Tuhan Maha Sempurna, Ia-lah pemilik segala nilai kehidupan.

Apakah itu artinya kesempurnaan merupakan perpaduan harmonis dan apik antara beberapa hal yang berlawanan? Bukankah untuk menjadi 'genap' dibutuhkan 'ganjil'? Bukankah dua potong magnet bisa merekat sempurna karena adanya dua kutub yang berlawanan? Bukankah tanpa ada penjahat seperti Joker, maka Batman bukanlah apa-apa?

Demikianlah aku menyampaikan pengertian tentang kesempurnaan ini kepadamu, karena aku ingin mengatakan,"Mencintaimu telah menggenapkanku, mengisi yang tidak ada padaku menjadi ada padaku. You complete me."

L-o-o-n-e-y

Pernah sekali waktu ketika aku menghabiskan malam di tengah keramaian sebuah kafe yang dihidupkan oleh permainan apik dari konser musik hidup yang dibawakan band muda yang belum ternama. Di sekitarku tampak beberapa orang, mulai dari yang muda hingga yang berusia, yang laki-laki, yang perempuan, bahkan hingga yang keduanya. Mereka tertawa, melepas penat, meneguk larutan hasil kombinasi antara sari buah dan alkohol. Memabukkan dan mampu membawa mereka ke alam yang mereka cari, alam setengah sadar sampai alam tak sadar. Tetapi tunggu dulu...

Pause

Kau tahu? Sejenak tadi aku melihat ada kekosongan di mata mereka. Seorang laki-laki yang sedari tadi tertawa paling keras, sekilas terlihat melamunkan sesuatu, memperhatikan gelas beningnya yang berkeringat oleh es batu yang mengembun dengan pandangan kosong. Seorang wanita yang sedari tadi berkomat-kamit ceria melantunkan lirik lagu yang dibawakan kawanan pemain band, sejenak terlihat menitikkan air mata. Apa yang mereka rasakan sesungguhnya?

Play

Ya, siapa yang tahu? Bukankah demikian kau juga menceritakannya kepadaku, bahwa kau melewati hidupmu dengan kekuatan yang kau pertahankan sepanjang hari di depan orang lain agar kau selalu tampak kuat dan ceria, hingga malam datang dan menyisakan dirimu hanya seorang, kemudian baru kau terbebas dari pertahananmu itu? Lalu kau log in ke duniamu yang sebenarnya dengan kata sandi yang selama ini tersimpan di dalam hatimu yang paling dalam :

L-o-o-n-e-y

Log out

Minggu, 20 November 2011

I'm Done!

Zaman menjadikan beberapa manusia termasuk aku menjadi seperti mesin pabrik, turn on dan turn off pada waktu yang tentu dan yang ditetapkan. Seperti pagi ini, bunyi 'kring' yang keluar dari alarm yang kuaktifkan semalam seolah membentur-benturkan kepalaku, sepertinya jika ia memiliki tangan, ia sudah mencengkeramkan kedua tangannya pada kerah baju tidurku lalu menarik-nariknya mencoba menyadarkanku agar lekas sadar dari alam bawah sadar. Dari mimpi.

***

Setelah diberondong air pancuran di kamar mandi yang sengaja kusetel dingin, guna menyadarkanku bahwa aku sedang dalam situasi 'menuju jam terlambat', aku mengenakan pakaian sekenanya. Memacu diri kembali ke aktifitas sehari-hari di tempat kerja. Tahukah kalian bagian dari pekerjaanku yang paling mengerikan dan yang sangat kuhindari sebisa mungkin? Merangkai bunga. Kuulangi, me-rang-kai bu-nga. Aku tidak seperti Radu yang menguasai Ikebana dengan sempurna. Mendalami ilmu merangkai bunga adalah bagian dari hidupnya. Tetapi aku? Super kuhindari. Me-nge-ri-kan.

Hari ini nyaris sempurna jika tidak ada malapetaka yang menimpaku. Dia masuk. Ibu-ibu yang kelihatannya sedang mengandung itu masuk ke dalam store tempatku mencari nafkah. Matanya memperhatikan setiap tatanan bunga yang memang sengaja dirangkai sedemikian rupa untuk menarik minat si pembeli. God dammit, aku sendirian. Teman-temanku sedang menginput laporan hasil penjualan kami seharian ini. Sebentar lagi memang jam pulang, dan kali ini sepertinya firasat burukku tidak salah. Mata si ibu mulai berkeliling, mencari vas yang sekiranya seolah-olah bisa memuaskan pencariannya selama berjuta tahun lamanya. Dan aku, meski ragu, tetap maju. "Ada yang bisa saya bantu?" keringat dingin mulai tumpah.

"Vas dengan tinggi kurang lebih lima puluh sentimeter dan bunga dengan tinggi sekitar enam puluh sentimeter. Adakah?"
Perfect! ujarku dalam hati, ternyata kekhawatiranku benar. Mimpi buruk datang.
"Harus tepat?" Tanyaku.
"Tidak juga. Asal mendekati. Saya sendiri pusing mencarinya."

Aku mengambilkannya vas setinggi kurang lebih hampir mencapai lima puluh sentimeter dan beberapa tangkai Amaryllis, lalu menunjukkannya kepada si ibu.
"Rangkaikan." katanya pendek namun mematikan.

Diawali dengan ritual tak kasat mata, ingat, kubilang tak kasat mata, sehingga ritualku tentu tak disadari si ibu, kemudian kutiru gerakan teman-teman seprofesiku yang masih kuingat. Tidak mirip memang, berkesan mengasal, yang penting tidak ketahuan asal, begitu prinsipku. Kini menunggu keputusan juri, penilaian mutlak panitia bernama si ibu yang tidak bisa diganggu gugat hasil keputusannya.

"Saya beli ini. Semuanya." Seperti merasa menjadi salah satu anggota kesebelasan sepak bola yang baru saja memenangkan kejuaraan dunia empat tahunan, aku mengangkat vas itu menuju meja kasir seperti membawa Piala Dunia pulang ke negaraku.

Perjuangan yang super melelahkan bagiku ini, diakhiri dengan perpaduan harmonis antara bunyi cenit kasir dan bunyi struk keluar dari mesin struk kasir. I'm done!

Me-nge-ri-kan.

Minggu, 09 Oktober 2011

Radu

Mataku mencari-cari sosok Radu di tengah kerumunan orang yang berlalu lalang lalu pergi di pasar bunga bilangan Jakarta Barat, tempatku berada sekarang. Aku tidak menemukan Radu. Tidak di kantin kecil tempat biasa dia menyesap kopi, tidak juga di toko bunga sederhana yang ia kelola bersama putranya yang sulung. Aku hanya menemukan sesosok pria kekar berkumis tebal sedang duduk di kursi rotan sambil merokok, tepat di depan pintu masuk toko milik Radu.

"Maaf, Pak. Apa anda melihat Radu?" Aku memberanikan diri bertanya kepadanya.

"Ah, seperti biasa, ia sedang di kebun belakang di rumahnya."

Setelah sampai di rumah Radu yang tidak jauh dari sana, aku mengucap permisi kepada mereka yang tinggal di dalam rumah itu, keluarga Radu. Kemudian aku mendapati Radu sedang memetik beberapa tangkai bunga matahari dari kebun belakang rumahnya. Ia melihat kedatanganku.

"Aku sedang menyiapkan pesananmu." Sapanya kepadaku.

"Bunga-bunga itu yang kupesan kemarin?"

"Ya, masih segar dan baru saja kupetik. Kupilih yang terbaik."

"Terima kasih, Radu. Kau penjual bunga terbaik yang pernah kutemui."

"Omong-omong mengapa kau memilih bunga ini?"

"Radu, bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa selama ini kau berfilosofi tentang macam-macam bunga, kemudian kau menjual kisah itu kepada mereka yang sedang dimabuk asmara dengan harapan mereka tertarik membeli bungamu? Aku tertarik pada kisahmu tentang bunga yang kaupegang itu."

Radu tertawa. Ia menyipitkan matanya, menatapku tajam,"Kau sungguh-sungguh?"

"Aku sungguh-sungguh. Seperti kelopaknya yang selalu mengikuti kemanapun cahaya matahari pergi, demikianlah bunga matahari, artinya 'selalu memperhatikanmu'. Dan aku sudah menemukan seorang matahari untukku, Radu. Seorang yang membuatku ingin terus memperhatikannya. Seperti bunga matahari yang selalu mengikuti cahaya matahari pergi itu." Jawabku kepadanya.

Radu tertawa, lantas berujar,"Kau jatuh cinta?"

Aku tidak menanggapinya.

Ia menimpali,"Omong-omong apa kau tahu persamaan antara jatuh cinta dan menulis?"

Aku semakin heran dengan perkataannya.

"Dengar, jatuh cinta dan menulis itu adalah dua hal yang memiliki persamaan di awalnya. Seperti sulitnya menemukan kata pembuka untuk memulai sebuah tulisan, saat jatuh cinta pun kau akan mendapatkan kesulitan dalam menemukan kata-kata yang tepat untuk mengawalinya, untuk mengutarakannya. Setelah selesai dengan awalnya, kau cukup melanjutkannya sesuai perasaanmu." Radu tertawa kemudian mengajakku kembali ke tokonya.

Ia merangkaikan untukku sembilan tangkai bunga matahari sambil berkata,"Ikutilah kemanapun cahaya matahari itu pergi."

Juni, 2011

Sabtu, 03 September 2011

Kepada Seseorang di Balik Cermin

Kata pembuka selalu saja menjadi bagian paling sulit untuk memulai sebuah tulisan. Setidaknya bagiku demikian rasanya. Terjadi begitu saja, ketika lagu Man in The Mirror keluar dari televisi kamarku, kemudian menabrak tembok wastafel yang berada tepat di depan kamarku, lalu jatuh menimpa kepalaku yang masih menghabiskan pagi di depan wastafel itu. Belum sempat kumuntahkan air kumuran di mulutku, tiba-tiba saja aku terkejut. Dia membuka mulutnya. Aku bergidik. Mulutnya terbuka tetapi tidak bersuara. Suaranya tidak cukup kuat untuk menyeberang dari alam cermin ke alam non-cermin, dari alam maya ke alam nyata.

Dia menunjukkan ekspresi kecewa. Sepertinya dia tahu bahwa aku tidak bisa mendengar suaranya. Dia meraih buku notes yang ada di sekitarnya. Merobek beberapa halaman kertas kosongnya, kemudian meraih pena. Demikian pula aku. Ditunjukkannya kepadaku apa yang dia tuliskan.

Kadang tulisan bisa lebih terdengar daripada suara
Meski kenyataannya tidak selalu demikian
Betul 'kan?
Aku berteriak pun suaraku tidak cukup kuat sampai kepadamu
Karena itu aku memilih untuk menuliskannya kepadamu
Dari balik cermin

Satu kali dalam hidupku
Aku ingin membuat perubahan
Membuat kehidupan berjalan dengan benar
Setujukah kamu?


Aku balas menulis untuknya. Aku masih belum menangkap apa maunya dan apa maksudnya dengan 'perubahan' yang ia tuliskan itu. Aku melihat dia menulis lagi. Lalu ditunjukkannya lagi kepadaku. Dari alam cermin tembus ke alam non-cermin.

Belakangan ini
Aku merasa sudah menjadi korban sebuah keegoisan
Ini saatnya aku menyadari
Ada beberapa orang tanpa rumah

Aku juga melihat anak-anak di jalan
Dengan perut kembung buncit
Karena terlalu banyak ruang kosong
Tanpa cukup apapun untuk dimakan
Aku merasa buta
Berpura-pura tidak tahu apa kebutuhan mereka


Dia menurunkan kertas penuh tulisan itu. Sekali lagi dia menulis.

Kau terkejut hari ini aku seolah berbincang-bincang denganmu?

Aku mengangguk mengiyakan.

Karena aku ingin memulai dengan pria di cermin
Aku memintanya untuk mengubah caranya
Cara pandangnya
Cara pikirnya
Jika kita ingin membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik
Lihatlah diri sendiri
Dan kemudian buatlah perubahan itu


Kemudian dia mematikan kran wastafel yang sedari tadi mengucur keluar. Kami memuntahkan air kumuran yang dari tadi lupa kami muntahkan. Dia mengelap mulut basahnya dengan handuk, aku mematikan lampu. Bersamaan dengan itu, tubuhku mulai memudar, bersatu dengan gelap. Mataku masih memandang punggungnya yang berjalan menjauhi wastafel menuju kamarnya. Terakhir, dia menutup pintu kamarnya.

Kamis, 18 Agustus 2011

Emoti(c)on

Bee

Jika aku ingat kembali, hari di mana kita baru kali pertama berbincang-bincang secara panjang. Seolah mengabaikan arus waktu yang mendorong matahari untuk terbenam, mengangkat bulan untuk menampang, meski hanya sekedar lewat percakapan imajiner yang membius aku dan kau, membius kita untuk merasakan bagaimana rasanya hidup di dua dunia yang berbeda sama sekali, dunia pagi dan dunia malam.

Dunia di mana antara yang pagi dan yang malam menjadikan kita sebagai manusia yang sama sekali berbeda. Di mana pagi mengharuskan aku tidak mengenalmu, dan malam membiarkan aku mendekatimu. Lewat kata-kata yang entah kau sebut gombal atau rayuan, tetapi dalam hatimu sendiri terasa ada debaran senang akan susunan harmonis kata-kata yang sebenarnya kususun secara acak tanpa maksud dan tujuan.

Dari mulai sekedar bertukar lagu revival sampai memamerkan beragam quotes dari orang-orang terkenal sampai yang tidak terkenal, bahkan hingga mereka yang mencoba untuk terkenal. Kemudian perbincangan imajiner itu berubah. Bermutasi! Berevolusi menjadi sebuah keharusan rutin yang terasa kurang dan janggal bila dihilangkan dari ritual kita melewati malam.

PING!

Aku baru saja pulang, demikian pesan singkat yang kukirim tepat ketika kakiku menginjakkan langkah pertamanya memasuki pintu rumah.

Kau balas dengan mengirimkan sebuah emoticon.

:)

Hari ini, meski ribuan meter fiber optik membentang, aku merasa jarak tidak demikian jauh. Sepertinya teknologi menyulap jarak menjadi tak berjarak. Dekat dan jauh menjadi semakin rancu. Perbedaannya tinggal soal kedekatan hati. Seperti jarak seorang hamba dengan Tuhannya. Seberapa dekat ia? Seberapa jauh ia? Jarak menjadi sesuatu yang gamang, yang relatif. Tergantung bagaimana kedekatan hatinya. Yah, seperti yang kukatakan tadi.

...

PING!

Ponselku bergetar.

Kamu di mana? katamu via imajiner.

Kubalas singkat dengan bubuhan emoticon senyuman di akhir kalimat.

Sebentar lagi sampai rumah :)

...

Bee

Kali nanti, ketika kita tidak lagi bersembunyi di balik rumitnya jaringan fiber optik untuk berkata-kata. Ketika kita tidak terjebak dalam arus bilangan biner yang terkirim lewat sintaks-sintaks informatika untuk berhubungan, saat itu antara aku dan kamu bisa bertatap muka secara langsung dan penuh tanpa harus sembunyi-sembunyi dari pagi. Di mana ketika malam bukan lagi menjadi medium bagi kita untuk berbincang-bincang secara panjang, melainkan menjadi medium dari sebuah penantian kepulangan, yaitu aku menanti kau pulang atau kau menanti aku pulang.

Siapapun yang menanti kelak, aku harap nanti bukan hanya sekedar emoticon yang bisa kita berikan ketika salah satu dari kita masuk dari pintu depan rumah kita seraya berkata,Aku pulang. Aku berharap lebih, Bee. Saat itu aku tidak mengharapkan emoticon seorang Tuan Senyuman. Jika aku menjadi si pulang, aku mengharapkan emotion dari wajahmu yang tersenyum menyambut kepulanganku. Ya, senyuman yang lebih tulus dari milik emoticon si Tuan Senyuman.

PING!

Rabu, 17 Agustus 2011

No One Knows

No one knows what it's like
To be the bad man
To be the sad man
Behind blue eyes

No one knows what it's like
To be hated
To be fated
To telling only lies

But my dreams
They aren't as empty
As my conscience seems to be

I have hours, only lonely
My love is vengeance
That's never free

No one knows what it's like
To feel these feelings
Like I do
And I blame you!

No one bites back as hard
On their anger
None of my pain and woe
Can show through

But my dreams
They aren't as empty
As my conscience seems to be

I have hours only lonely
My love is vengeance
That's never free

When my fist clenches, crack it open
Before I use it and lose my cool
When I smile, tell me some bad news
Before I laugh and act like a fool

And If I swallow anything evil
Put your finger down my throat
And If I shiver, please give me a blanket
Keep me warm, let me wear your coat

No one knows what it's like
To be the bad man
To be the sad man
Behind blue eyes

*The Who - Behind Blue Eyes


Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi orang jahat, menjadi orang sedih, bersembunyi di balik mata biru. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi sosok yang dibenci, ditakdirkan untuk mengatakan kebohongan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Dalam mimpiku, kelak mereka tidak akan lagi kosong seperti hati nuraniku kini. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya, untuk merasakan perasaan ini, seperti yang kulakukan selama ini.

Ketika nanti aku mengucapkan, Aku pergi, aku seperti berubah wujud dari manusia berseragam dengan motif garis menjadi manusia tanpa seragam, dengan kaos putih yang barangkali merasa bosan karena terus kuinseminasikan dengan jeans biru panjang.

Waktunya akan tiba-tiba, seperti ombak laut yang tidak mengucap permisi ketika ia datang menyapa pantai. Juga tidak mengucap salam perpisahan ketika ia hendak menarik diri kembali ke laut. Aku sudah terbiasa untuk itu. Datang dan pergi tanpa tanda, terlalu tiba-tiba. Seperti Malaikat Izrail dan kapak pencabut nyawanya dengan jubah hitam yang invisible, tidak terlihat. Sebagaimana ia mendatangi seorang bapak, yang barangkali semalam terlihat begitu ceria dan bersemangat ketika meladeni bincang-bincang putranya seputar pertandingan sepak bola yang baru saja mereka saksikan. Semuanya akan tiba-tiba.

Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi orang jahat, menjadi orang sedih, bersembunyi di balik mata biru. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya menjadi sosok yang dibenci, ditakdirkan untuk mengatakan kebohongan yang tidak sesuai dengan hati nurani. Dalam mimpiku, kelak mereka tidak akan lagi kosong seperti hati nuraniku kini. Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya, untuk merasakan perasaan ini, seperti yang kulakukan selama ini.

Tetapi dalam impianku
Kelak mereka yang kutinggalkan
Tidak akan kosong
Akan lebih penuh dari sebelumnya
Lebih bercahaya

Tetapi tetap
Mereka tidak akan mengerti
Bagaimana rasanya menjadi sosok yang jahat
Menjadi sosok yang dibenci
Ditakdirkan untuk terlihat demikian


Limp Bizkit - Behind Blue Eyes