Silahkan klik link berikut sebelum membaca trivial yang kutulis di bawah ini, Back Office : February 2011.
Aku katakan kepada kalian yang berkali-kali menginginkan kejatuhanku. Aku ingin bercerita sedikit bagaimana Tuhan membentuk dan mendaur ulang hidupku. Dia mengizinkan kakiku terancam sebuah pistol berisi peluru timah panas, Dia mengizinkan kepalaku harus bocor dan mengucurkan darah akibat pemukulan stik golf oleh seorang pria berseragam, Dia juga mengizinkanku mengenal beberapa orang yang kehilangan makna hidup mereka tetapi bersemangat untuk kembali menemukan jalan hidup mereka. Tuhan memberikan segala cobaan-cobaan yang bersifat sementara itu hanya agar aku mampu membentuk karakter secara permanen.
Dan atas apa yang kalian lakukan kepadaku, percayalah, aku sekalipun tidak mengharapkan kalian terjatuh. Aku mengasihi kalian sebagaimana Tuhan mengasihiku. Tetapi aku ingin kalian mengerti, tidak perlu terburu-buru mengusirku. Aku akan pergi sendiri dan kembali kepada mereka yang menaruh cita-cita dan harapan besar tentang sebuah impian bukan-bukan yang mereka dan aku ciptakan.
Tenanglah, Kawan. Aku hanya ingin menyelesaikan tujuanku, kisahku. Kelak ketika aku menamatkan semua kisah ini, aku akan berhenti memainkan tokohku sekarang. Aku akan pergi dengan sendirinya. Kembali kepada sekumpulan kawan dengan ketulusan dan sebuah kepercayaan tanpa batas mereka untukku. Jika kelak saat itu tiba, maka aku akan memiliki sebuah kisah yang dapat kubagi dengan anak-anakku di sana, yang juga merupakan sebuah kebenaran akan pernyataanku tempo lalu kepada kalian, bahwa tujuan hidupku bukan pada kesuksesan, tetapi pada pencapaian sebuah nilai kemanusiaan yang nyaris hilang dari muka bumi.
Lalu apabila sudah tiba waktunya, aku akan mengatakan kepada seorang rekanku, yang kusebutkan namanya dalam trivialku terdahulu, Tata,"Aku bangga melihatmu. Nilai-nilai itu sudah kamu lakukan, bukan kamu umbarkan. Capailah nilai-nilaimu, meski kelak tanpa lagi aku."
Mengapa aku bangga kepadanya? Kalian yang tidak mengenalnya tidak akan pernah tahu. Tata hanya seorang Office Boy, tetapi jiwanya melebihi jabatan yang melekat pada dirinya. Berkali-kali dia menunjukkan nilai ketulusan dan keikhlasan dalam bekerja. Mereka tidak tahu mengenai dirinya, tetapi aku tahu persis bagaimana ia memaksakan diri untuk bekerja meski menahan sakit yang sedang menyerangnya. Bagaimana ia tidak ingin tempatnya bekerja kerepotan karena kekurangan tenaga. Dan aku bangga atas itu, sebab segala hal yang dilakukannya adalah tanpa keluhan maupun tuntutan.
Bukan seberapa tinggi jabatanmu, tetapi seberapa tinggi nilai yang kamu junjung untuk mencitrakan jabatan itu sendiri.
"Studying, working, and loving is like playing the piano. When you play it just based on the manual book, it will sound like as it should. But when you play it with your feeling, it will sound endearing."
Belajar, bekerja, dan mencintai adalah seperti bermain piano. Saat kau memainkannya berdasarkan buku pandu, maka akan terdengar sebagaimana mestinya. Tapi saat kau memainkannya dengan perasaan, akan terdengar menawan.
Jakarta, 18 April 2011
Ini adalah kumpulan cerita yang saya tulis sambil menggauli insomnia. Selamat membaca dan menyimaknya. Semoga berkenan dan akhirnya bersedia meninggalkan komentar.
Senin, 18 April 2011
Rabu, 13 April 2011
Pelangi untuk Regista, Il Capitano

Pernahkah kalian menemukan kejadian seperti ini saat menonton tayangan pertandingan sepak bola? Seorang kapten menghampiri pelatihnya dan berkata,"Masukkan dia!" Pernahkah? Apakah kalian mengerti siapa yang dimaksud dengan 'dia'?
Dia adalah pemain yang nyaris tidak pernah masuk ke dalam daftar pemain utama. Dia pemain spesialis cadangan yang baru akan dimasukkan ke dalam skuad inti jika sang pelatih merasa kehabisan akal dan strategi dalam menghadapi kesebelasan lawan. Saat itulah pemain cadangan itu akan dimasukkan untuk memvisualisasikan imajinasinya, dan dari imajinasinya itulah diharapkan terjadi perubahan, dari kekalahan menjadi kemenangan. Dialah Fantasista.
Orang-orang Italia percaya bahwa Fantasista adalah mereka yang mampu memberikan perasaan berdebar kepada para penontonnya ketika menyaksikan pertandingan yang dilakoninya. Para penggila sepak bola itu rela merogoh kocek mereka untuk membeli tiket demi menyaksikan Fantasista mereka beraksi. Satu hal dalam hati mereka, yaitu sebuah pertanyaan yang selalu muncul dalam benak mereka setiap menyaksikan Fantasista itu beraksi,"Permainan macam apa yang akan kau perlihatkan hari ini, Fantasista?"
Namun, banyak orang yang tidak mengerti. Fantasista tidak lebih dari sekadar pelangi yang bisa kehilangan keindahannya. Fantasista yang telah kehilangan keajaibannya tidak lebih dari sekadar pemain kelas cadangan biasa. Tidak berguna. Fantasista ibarat binatang liar yang harus ditundukkan seorang pawang dengan memberinya kepercayaan untuk melahirkan keajaiban lewat gerakan serabutannya, seorang pengendali dan pengatur yang mampu memasukkan keajaiban sebagai unsur cadangan ke dalam perhitungan matangnya. Dan pawang dengan bakat tanpa batas seperti itu dinamakan Regista, Il Capitano.
Seorang Fantasista sulit sekali mendapatkan kepercayaan dari orang lain sebab pemikirannya yang bukan-bukan dan cenderung tidak wajar. Karena itulah dia akan memberikan dan mempertaruhkan segala keajaiban imajinasinya hanya untuk seorang Regista.
Dalam dunia modern, sosok Regista dianggap vital dalam membawa timnya menuju tangga kemenangan, sebab ia memiliki visi yang tajam dan pertimbangan berdasarkan perhitungan yang matang. Baginya, keberuntungan hanyalah akibat dari kesalahan perhitungan yang masih bisa ditoleransi.
Antara Fantasista dan Regista ada satu perbedaan yang mendasar dan membuatnya terlihat paradoks atau bertentangan, yaitu seorang Regista selalu mampu menapaki lahan yang semakin tinggi oleh karena ia mampu memberikan penjabaran yang baik kepada orang lain sebelum mengambil keputusan dan bertindak. Sedangkan Fantasista, seperti pelangi yang bisa kehilangan keindahannya sewaktu-waktu, demikian pula seorang Fantasista bisa saja kehilangan keajaibannya ketika ia mendapati kenyataan bahwa Regista yang telah memberinya tempat harus segera berangkat menuju lahan yang lebih tinggi.
Masyarakat Italia menyebut Fantasista sebagai l'arcobaleno atau 'Sang Pelangi' dengan nilai keindahan yang bisa pudar sewaktu-waktu, dan mereka menyebut Regista sebagai Il Capitano atau 'Sang Kapten'.
Jadi, sosok mana yang merasuk di dalam diri kalian ketika melakoni kehidupan kalian dalam dunia pekerjaan atau dunia apapun yang milik kalian? Aku hanya ingin menjadi seorang Fantasista untuk satu orang Regista, sama seperti Hattori Hanzo, ninja Iga yang terkenal sepanjang zaman hingga diabadikan kisah-kisah komik maupun filmnya, tentang seorang ninja yang setia mempertaruhkan nyawanya demi kejayaan Tokugawa Ieyasu.

Jakarta, 13 April 2011
Selasa, 12 April 2011
What Did You Know?
Seorang mengatakan bahwa hidup tidak pernah memberinya pilihan, yang lain berkata bahwa hidupnya selalu ditabrak kemalangan. Sementara sebagian lagi mengeluh kesahkan perihal sekolahnya sampai ada yang membahas rumah tangganya. Semuanya bercerita seolah mereka makhluk paling sial di dunia. Tanpa keberuntungan sedikit pun. Seolah Fortuna sudah sejak lama membenci mereka.
Lalu apa yang kalian rasakan jika kalian nyaris gila karena hidup menuntut kalian untuk melahirkan tujuan sementara kalian kehilangan media untuk menggapainya. Seperti kisah Beethoven yang mendadak tuli sebelum ia melahirkan Fur Elise. Jika kalian menjadi dia, apakah Fur Elise akan lahir? Atau hanya akan menjadi malaikat maut yang terjebak di dalam kotak musik?
Apa yang terjadi kepada kalian jika kalian menjadi seorang Leonardo da Vinci yang mendapati bahwa ruang penyimpanan lukisannya dilalap api kebakaran? Apakah La Gioconda Monalisa akan lahir? Apakah The Last Supper akan dipamerkan di ruang-ruang kesenian negara?
Apa yang kalian tahu tentang aku? Selain dari percakapan-percakapan imajiner kita? Seperti seorang anak laki-laki yang mengisi hidupnya dengan debaran? Atau sebaliknya, seorang anak yang menghabiskan hidupnya tanpa impian?
Kukatakan satu hal padamu, Kawan. Sungguhpun aku ingin sekali untuk bisa melihat dunia secara penuh seperti yang bisa kalian semua lakukan, melihat matahari dengan penglihatan sempurna dari mata kiri dan kanan. Tetapi Tuhan telah sejak lama membutakan mata kiriku. Sungguh aku sempat menaruh kecewa kepadaNya. Namun, aku mengerti bahwa semua diizinkanNya terjadi demikian adalah sudah seturut rencana dan kehendakNya saja di bumi seperti di dalam Surga. Dia mematikan mata kiriku karena Ia telah lama memperhatikan sosok iblis di dalamnya dan Ia tidak menghendaki hal itu terjadi di dalam diriku.
Jakarta, 12 April 2011
Lalu apa yang kalian rasakan jika kalian nyaris gila karena hidup menuntut kalian untuk melahirkan tujuan sementara kalian kehilangan media untuk menggapainya. Seperti kisah Beethoven yang mendadak tuli sebelum ia melahirkan Fur Elise. Jika kalian menjadi dia, apakah Fur Elise akan lahir? Atau hanya akan menjadi malaikat maut yang terjebak di dalam kotak musik?
Apa yang terjadi kepada kalian jika kalian menjadi seorang Leonardo da Vinci yang mendapati bahwa ruang penyimpanan lukisannya dilalap api kebakaran? Apakah La Gioconda Monalisa akan lahir? Apakah The Last Supper akan dipamerkan di ruang-ruang kesenian negara?
Apa yang kalian tahu tentang aku? Selain dari percakapan-percakapan imajiner kita? Seperti seorang anak laki-laki yang mengisi hidupnya dengan debaran? Atau sebaliknya, seorang anak yang menghabiskan hidupnya tanpa impian?
Kukatakan satu hal padamu, Kawan. Sungguhpun aku ingin sekali untuk bisa melihat dunia secara penuh seperti yang bisa kalian semua lakukan, melihat matahari dengan penglihatan sempurna dari mata kiri dan kanan. Tetapi Tuhan telah sejak lama membutakan mata kiriku. Sungguh aku sempat menaruh kecewa kepadaNya. Namun, aku mengerti bahwa semua diizinkanNya terjadi demikian adalah sudah seturut rencana dan kehendakNya saja di bumi seperti di dalam Surga. Dia mematikan mata kiriku karena Ia telah lama memperhatikan sosok iblis di dalamnya dan Ia tidak menghendaki hal itu terjadi di dalam diriku.
Jakarta, 12 April 2011
Minggu, 03 April 2011
Surat-surat Penyapu Jalan
Ini hari ketujuhku sebagai penyapu jalan. Aku menemukan banyak keping kehidupan yang dibuang di jalan-jalan ini. Ada kegundahan, kekhawatiran, kesedihan, keputus asaan, dan yang ironis adalah ketakutan manusia menyatakan cinta. Ya, seperti surat lecek yang kutemukan di trotoar barusan ini. Penulisnya pasti sangat dangkal. Dia terlalu takut menyatakan perasaannya. Dia takut kehilangan sehingga ia memilih tidak memulai. Seperti drama dalam sinetron saja.
Aku mencintai bukan untuk melukai. Aku mencintai karena aku mengagumi dan ingin selalu memahami. Tetapi semuanya akan hilang ketika aku mencoba menyampaikannya. Ini suratku yang kedua yang barangkali kutulis lantas kubuang begitu saja tepat ketika kububuhkan tanda titik pada kalimat terakhirnya.
Aku tidak mengerti bahasa orang atas. Sebagai penyapu jalan, aku hanya mengerti bahwa cinta bukanlah cinta sebelum ia dipersembahkan. Cukup sampaikan, lalu cukup lihat bagaimana nantinya. Apakah akan mendapat jawaban yang menyenangkan atau menyakitkan, itu urusan belakangan.
Aku tidak mengerti bahasa orang sekolahan yang memasukkan cinta ke dalam rumus pemasukan dikurang pengeluaran dikurang biaya cinta lebih kecil dari mapan sama dengan bunuh diri. Masa bodoh dengan itu. Aku dan istriku hidup dari memulung sampah, menyapu sampah, tetapi cinta kami seperti sampah yang sukses didaur ulang, terasa sangat mahal nilainya. Masa bodoh dengan rumus matematika kehidupan dan percintaan.
Terakhir kali aku mendengar sebuah lagu lewat radio usang yang kupungut dari tong sampah rumah orang kaya di blok seberang, kalau tidak salah penyiarnya sempat mengucapkan 'Janet Jackson', kuanggap itu nama penyanyinya. Dia melantunkan sebuah lirik yang indah, begitu menurut penyiarnya yang kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, sebab aku tidak mengerti bahasa lain selain itu :
"Doesn't really matter what the eye is seeing, 'cause i'm in love with the inner being." -Janet Jackson
"Tidak peduli apa yang dilihat mata, karena aku jatuh cinta pada yang di dalam hati."

Jakarta, 3 April 2011
Aku mencintai bukan untuk melukai. Aku mencintai karena aku mengagumi dan ingin selalu memahami. Tetapi semuanya akan hilang ketika aku mencoba menyampaikannya. Ini suratku yang kedua yang barangkali kutulis lantas kubuang begitu saja tepat ketika kububuhkan tanda titik pada kalimat terakhirnya.
Aku tidak mengerti bahasa orang atas. Sebagai penyapu jalan, aku hanya mengerti bahwa cinta bukanlah cinta sebelum ia dipersembahkan. Cukup sampaikan, lalu cukup lihat bagaimana nantinya. Apakah akan mendapat jawaban yang menyenangkan atau menyakitkan, itu urusan belakangan.
Aku tidak mengerti bahasa orang sekolahan yang memasukkan cinta ke dalam rumus pemasukan dikurang pengeluaran dikurang biaya cinta lebih kecil dari mapan sama dengan bunuh diri. Masa bodoh dengan itu. Aku dan istriku hidup dari memulung sampah, menyapu sampah, tetapi cinta kami seperti sampah yang sukses didaur ulang, terasa sangat mahal nilainya. Masa bodoh dengan rumus matematika kehidupan dan percintaan.
Terakhir kali aku mendengar sebuah lagu lewat radio usang yang kupungut dari tong sampah rumah orang kaya di blok seberang, kalau tidak salah penyiarnya sempat mengucapkan 'Janet Jackson', kuanggap itu nama penyanyinya. Dia melantunkan sebuah lirik yang indah, begitu menurut penyiarnya yang kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, sebab aku tidak mengerti bahasa lain selain itu :
"Doesn't really matter what the eye is seeing, 'cause i'm in love with the inner being." -Janet Jackson
"Tidak peduli apa yang dilihat mata, karena aku jatuh cinta pada yang di dalam hati."

Jakarta, 3 April 2011
Rabu, 23 Maret 2011
Fadillah
"Memang kita sedang apa, Ayah?" aku yang waktu itu masih duduk di bangku kelas tiga SD bertanya kepada ayahku yang sedang sibuk berbicara dengan seorang petugas berseragam.
"Mengurus paspor-mu, kamu harus dioperasi."
"Apa itu operasi? Untuk apa?"
Ayah tidak menjawab.
***
Hari ini aku merasa pusing. Bukan. Bukan karena pelajaran matematika kelas tiga SD yang sedang dijelaskan oleh ibu guru. Aku tidak bisa memfokuskan mataku pada papan tulis. Pandanganku kabur, sampai akhirnya aku ambruk. Ibu guru wali kelasku, Ibu Christine membawaku ke UKS Sekolah.
Beberapa jam kemudian aku siuman. Aku ditanyai macam-macam. Aku tidak menjawab. Aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku, tetapi aku tidak tahu apa itu. Ah, ketemu! Aku baru menyadari, pandanganku tidak penuh! Hanya sebelah! Oh, Tuhan, kenapa ini? Ada apa dengan mataku?
Aku mencoba menutup mata kiriku, membiarkan diriku melihat hanya dengan sebelah mata kanan saja. Tidak ada masalah. Kini kuberanikan diriku menutup mata kananku. Tidak! Apa yang terjadi? Aku tidak bisa melihat! Mata kiriku buta!
Ibu penjaga UKS kebingungan melihat tingkah panikku. Dia memegangiku, kemudian memelukku, seolah dia tahu apa yang sedang terjadi di sini.
Ibu Christine langsung menghubungi orang tuaku, aku dipulangkan. Ia menceritakan kejadiannya kepada ibuku. Mata kiriku ternyata bukan buta, tetapi tidak berfungsi lagi. Bahkan untuk mengenali wajah ibuku yang berdiri tepat di hadapanku saja tidak bisa. Hanya kelihatan warna putih dan hitam membentuk pola tidak karuan.
***
Beberapa bulan kemudian ayah membawaku ke Singapura untuk berkonsultasi dengan seorang dokter yang dikenalnya. Dokter tersebut tidak menyarankan aku untuk dioperasi, sebab usiaku masih belum cukup, terlebih saat itu aku bersikeras menolak menjalani operasi karena ketakutan yang luar biasa. Membayangkan matamu dicungkil keluar, kemudian diganti dengan mata orang lain? Tidak! Yah, itulah yang bisa dibayangkan seorang anak SD kelas tiga sepertiku saat itu. Mana aku mengerti tentang retina dan kornea, apalagi titik jatuh bayangan, mendengarnya saja belum pernah.
Tahun demi tahun berganti, usaha ayah memburuk. Aku tidak pernah akan dioperasi. Tak masalah, toh memang aku tidak mau.
Aku selalu menyembunyikan kenyataan ini dari semua teman-temanku, aku tidak mau dibilang buta atau lebih buruknya aku tidak mau sampai dikasihani. Karena itulah aku tidak pernah melepaskan kacamataku selain ketika aku beranjak tidur.
Tetapi hari ini aku dipertemukan dengan seorang anak di Perkampungan Nelayan bernama Siti Nur Fadillah. Mata kiri dan kanannya masing-masing sudah minus sepuluh koma lima dan minus tujuh sejak lahir. Dia tidak pernah memberitahuku. Aku bisa mengerti, dia pasti minder dan tidak ingin dianggap cacat.
Aku mengetahui hal itu ketika aku memperhatikan pola tingkah anak-anak didik di kelas itu saat mereka sedang mencatat apa yang kutuliskan di papan tulis. Aku melihat Fadillah, demikian dia akrab disapa teman-temannya, berdiam diri. Aku bertanya,"Ada apa?"
"Tidak kelihatan."
Aku terkejut, tulisanku itu sudah sangat besar, sudah sengaja dibesarkan supaya bisa dilihat oleh anak yang duduk di barisan belakang. Saat itulah kutanyakan apakah ada masalah pada matanya yang ia sembunyikan? Dia mengangguk.
Beberapa hari kemudian, aku membawanya check mata ke klinik terdekat, dokter mata memberikan catatan kepadaku tentang minus dari kedua mata Fadillah.
Tuhan,
jika aku hanya bisa melihat dunia sebelah saja,
izinkan aku memiliki kemampuan untuk melihat anak ini tersenyum penuh...

Penyerahan kacamata untuk Siti Nur Fadillah (Kelas II SLTP) oleh HOME
Keterangan mata Siti Nur Fadilah : mata kanan -7, mata kiri -10.5
Tuhan tidak memampukanku untuk melihat dunia secara penuh, tetapi Dia telah memampukanku melihat Fadillah tersenyum penuh.
Agustus, 2010
"Terima kasih atas dukungan sobat-sobat HOME sehingga anak-anak ini bisa mendapatkan kacamata dan melihat secara penuh."
"Mengurus paspor-mu, kamu harus dioperasi."
"Apa itu operasi? Untuk apa?"
Ayah tidak menjawab.
***
Hari ini aku merasa pusing. Bukan. Bukan karena pelajaran matematika kelas tiga SD yang sedang dijelaskan oleh ibu guru. Aku tidak bisa memfokuskan mataku pada papan tulis. Pandanganku kabur, sampai akhirnya aku ambruk. Ibu guru wali kelasku, Ibu Christine membawaku ke UKS Sekolah.
Beberapa jam kemudian aku siuman. Aku ditanyai macam-macam. Aku tidak menjawab. Aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku, tetapi aku tidak tahu apa itu. Ah, ketemu! Aku baru menyadari, pandanganku tidak penuh! Hanya sebelah! Oh, Tuhan, kenapa ini? Ada apa dengan mataku?
Aku mencoba menutup mata kiriku, membiarkan diriku melihat hanya dengan sebelah mata kanan saja. Tidak ada masalah. Kini kuberanikan diriku menutup mata kananku. Tidak! Apa yang terjadi? Aku tidak bisa melihat! Mata kiriku buta!
Ibu penjaga UKS kebingungan melihat tingkah panikku. Dia memegangiku, kemudian memelukku, seolah dia tahu apa yang sedang terjadi di sini.
Ibu Christine langsung menghubungi orang tuaku, aku dipulangkan. Ia menceritakan kejadiannya kepada ibuku. Mata kiriku ternyata bukan buta, tetapi tidak berfungsi lagi. Bahkan untuk mengenali wajah ibuku yang berdiri tepat di hadapanku saja tidak bisa. Hanya kelihatan warna putih dan hitam membentuk pola tidak karuan.
***
Beberapa bulan kemudian ayah membawaku ke Singapura untuk berkonsultasi dengan seorang dokter yang dikenalnya. Dokter tersebut tidak menyarankan aku untuk dioperasi, sebab usiaku masih belum cukup, terlebih saat itu aku bersikeras menolak menjalani operasi karena ketakutan yang luar biasa. Membayangkan matamu dicungkil keluar, kemudian diganti dengan mata orang lain? Tidak! Yah, itulah yang bisa dibayangkan seorang anak SD kelas tiga sepertiku saat itu. Mana aku mengerti tentang retina dan kornea, apalagi titik jatuh bayangan, mendengarnya saja belum pernah.
Tahun demi tahun berganti, usaha ayah memburuk. Aku tidak pernah akan dioperasi. Tak masalah, toh memang aku tidak mau.
Aku selalu menyembunyikan kenyataan ini dari semua teman-temanku, aku tidak mau dibilang buta atau lebih buruknya aku tidak mau sampai dikasihani. Karena itulah aku tidak pernah melepaskan kacamataku selain ketika aku beranjak tidur.
Tetapi hari ini aku dipertemukan dengan seorang anak di Perkampungan Nelayan bernama Siti Nur Fadillah. Mata kiri dan kanannya masing-masing sudah minus sepuluh koma lima dan minus tujuh sejak lahir. Dia tidak pernah memberitahuku. Aku bisa mengerti, dia pasti minder dan tidak ingin dianggap cacat.
Aku mengetahui hal itu ketika aku memperhatikan pola tingkah anak-anak didik di kelas itu saat mereka sedang mencatat apa yang kutuliskan di papan tulis. Aku melihat Fadillah, demikian dia akrab disapa teman-temannya, berdiam diri. Aku bertanya,"Ada apa?"
"Tidak kelihatan."
Aku terkejut, tulisanku itu sudah sangat besar, sudah sengaja dibesarkan supaya bisa dilihat oleh anak yang duduk di barisan belakang. Saat itulah kutanyakan apakah ada masalah pada matanya yang ia sembunyikan? Dia mengangguk.
Beberapa hari kemudian, aku membawanya check mata ke klinik terdekat, dokter mata memberikan catatan kepadaku tentang minus dari kedua mata Fadillah.
Tuhan,
jika aku hanya bisa melihat dunia sebelah saja,
izinkan aku memiliki kemampuan untuk melihat anak ini tersenyum penuh...

Penyerahan kacamata untuk Siti Nur Fadillah (Kelas II SLTP) oleh HOME
Keterangan mata Siti Nur Fadilah : mata kanan -7, mata kiri -10.5
Tuhan tidak memampukanku untuk melihat dunia secara penuh, tetapi Dia telah memampukanku melihat Fadillah tersenyum penuh.
Agustus, 2010
"Terima kasih atas dukungan sobat-sobat HOME sehingga anak-anak ini bisa mendapatkan kacamata dan melihat secara penuh."
Sabtu, 19 Maret 2011
Saga
Monika, kamu ingat? Ketika aku dan kamu masing-masing masih enam, kau dan orang tuamu yang baru saja pindah ke kampung kami, datang bertamu ke rumahku. Sementara orang tua kita asyik bercengkerama tentang tetek bengek sayuran sampai kenaikan harga bensin, aku dan kamu asyik bermain gundu. Saling adu sentil bola-bola kaca dengan hiasan manik-manik di dalamnya. Cantik, seperti dirimu.
Sampai tiba waktunya kita masing-masing bermetamorfosis menjadi remaja, orang tuaku menampik kehadiranmu dalam hidupku. Mereka membencimu, Monika. Entah, aku tidak mengerti, apakah aku salah jika mencintaimu, Monika? Sudah terlambat. Ayah membelikanku tiket dan mengurus kepindahanku ke negara Paman Sam sana.
Kini sudah puluhan tahun berlalu sejak kenangan bermain kelereng bersamamu, Monika. Sampai saga lama ini kembali terlintas di hadapanku. AKu lupa menceritakannya kepadamu, aku telah menikah dengan seorang warga Amerika di sini sejak aku lulus dari bangku kuliahku, Monika. Bahkan aku telah dikaruniai seorang anak perempuan, kuberi dia nama seperti namamu, Monika. Pada musim dingin kali ini Monika tepat enam.
Akhir pekan itu aku dan suamiku sedang menemani Monika kecil menonton televisi di ruang keluarga. Tiba-tiba suara bel di depan terdengar. Kubukakan pintu. Seorang pria Asia bertanya,"Bolehkah kami bertamu sambil memberikan hadiah kecil ini sebagai perkenalan kita? Aku mengajak istri dan anakku pindah ke sini dari Indonesia."
Suamiku datang dan mempersilahkan mereka masuk. Aku terkejut, kamu datang bersama lelaki itu, Monika. Kamu juga datang bersama putrimu, yang belakangan kuketahui kau beri dia nama seperti namaku.
Sementara kita, para orang tua berbincang-bincang tentang tetek bengek masakan di Amerika, sambil aku dan kamu berpura-pura tidak saling kenal, aku tahu persis kamu melihat pemandangan yang sama dengan yang kulihat saat itu. Putrimu dan putriku, mengulangi saga kita yang telah terkubur lama, asyik bermain gundu. Saling adu sentil bola-bola kaca dengan hiasan manik-manik di dalamnya. Cantik, seperti dirimu.
Sampai tiba waktunya kita masing-masing bermetamorfosis menjadi remaja, orang tuaku menampik kehadiranmu dalam hidupku. Mereka membencimu, Monika. Entah, aku tidak mengerti, apakah aku salah jika mencintaimu, Monika? Sudah terlambat. Ayah membelikanku tiket dan mengurus kepindahanku ke negara Paman Sam sana.
Kini sudah puluhan tahun berlalu sejak kenangan bermain kelereng bersamamu, Monika. Sampai saga lama ini kembali terlintas di hadapanku. AKu lupa menceritakannya kepadamu, aku telah menikah dengan seorang warga Amerika di sini sejak aku lulus dari bangku kuliahku, Monika. Bahkan aku telah dikaruniai seorang anak perempuan, kuberi dia nama seperti namamu, Monika. Pada musim dingin kali ini Monika tepat enam.
Akhir pekan itu aku dan suamiku sedang menemani Monika kecil menonton televisi di ruang keluarga. Tiba-tiba suara bel di depan terdengar. Kubukakan pintu. Seorang pria Asia bertanya,"Bolehkah kami bertamu sambil memberikan hadiah kecil ini sebagai perkenalan kita? Aku mengajak istri dan anakku pindah ke sini dari Indonesia."
Suamiku datang dan mempersilahkan mereka masuk. Aku terkejut, kamu datang bersama lelaki itu, Monika. Kamu juga datang bersama putrimu, yang belakangan kuketahui kau beri dia nama seperti namaku.
Sementara kita, para orang tua berbincang-bincang tentang tetek bengek masakan di Amerika, sambil aku dan kamu berpura-pura tidak saling kenal, aku tahu persis kamu melihat pemandangan yang sama dengan yang kulihat saat itu. Putrimu dan putriku, mengulangi saga kita yang telah terkubur lama, asyik bermain gundu. Saling adu sentil bola-bola kaca dengan hiasan manik-manik di dalamnya. Cantik, seperti dirimu.
Minggu, 06 Maret 2011
Back Office : February 2011
Aku akan menuliskan sebuah trivial tentang sepotong waktu, jauh sebelum beberapa orang yang bekerja di tempat aku bekerja mulai mengeluarkan perkataan,"Ada kamu, ada dia. Ada dia, ada kamu."
Saat itu di sudut kantin karyawan, kami, aku dan pria bernama panggilan Tata, sedang menunggu makan siang yang kami pesan tersaji. Aku memulai pembicaraan,"Apakah kamu percaya ada beberapa orang di luar sana yang bekerja bukan berorientasi upah, melainkan berfokus pada sebuah nilai?"
"Maksudnya?" Dia menjawab tanpa berpikir.
"Di dunia ini, ada orang-orang yang tidak memusingkan gaji atau upah yang diberikan, tetapi lebih memikirkan nilai yang ia capai dari sebuah pekerjaan itu."
"..." Dia diam.
"Pernah mendengar kisah seseorang yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi sesama manusia?"
"Pernah."
"Apakah orang-orang seperti mereka memikirkan gaji?"
"Tidak."
"Lalu apa yang mereka hendak capai?"
"Bukan kesuksesan, tetapi nilai."
"Cerdas!" Aku tersenyum.
"Tanamkan pemikiran seperti itu, sehingga aku akan senantiasa percaya kelak suatu hari nanti kamu akan menjadi orang yang mempunyai nilai besar untuk hidupmu." Aku meneruskan perkataanku.
"..." Dia menunggu perkataanku selanjutnya.
"Ngomong-ngomong, kemarin untuk apa kamu masuk bekerja? Bukankah sudah hakmu untuk libur?" Tanyaku lagi.
"Bukankah kemarin kamu mengatakan bahwa toko kita akan kedatangan banyak barang masuk?" Dia menjawab.
"Lalu?" Aku masih belum mengerti maksud dari jawabannya.
"Aku bekerja untuk sebuah nilai. Jika aku masuk untuk membantu, apakah itu menjadi sebuah nilai bagimu untukku?"
Kami tertawa bersama.
Sejak hari itu, aku katakan kepadamu melalui catatan trivialku ini, aku selalu tersenyum ketika kamu mengoceh sana sini, mengulang-ulang filosofi asal-asalan yang lahir dari pembicaraan kita tempo siang itu. Dan aku terkadang harus menyumbat telingaku ketika kamu terus-menerus mengatakan kepadaku :
Bekerjalah untuk sebuah nilai, bukan untuk sebuah upah.
Februari, 2011
Saat itu di sudut kantin karyawan, kami, aku dan pria bernama panggilan Tata, sedang menunggu makan siang yang kami pesan tersaji. Aku memulai pembicaraan,"Apakah kamu percaya ada beberapa orang di luar sana yang bekerja bukan berorientasi upah, melainkan berfokus pada sebuah nilai?"
"Maksudnya?" Dia menjawab tanpa berpikir.
"Di dunia ini, ada orang-orang yang tidak memusingkan gaji atau upah yang diberikan, tetapi lebih memikirkan nilai yang ia capai dari sebuah pekerjaan itu."
"..." Dia diam.
"Pernah mendengar kisah seseorang yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi sesama manusia?"
"Pernah."
"Apakah orang-orang seperti mereka memikirkan gaji?"
"Tidak."
"Lalu apa yang mereka hendak capai?"
"Bukan kesuksesan, tetapi nilai."
"Cerdas!" Aku tersenyum.
"Tanamkan pemikiran seperti itu, sehingga aku akan senantiasa percaya kelak suatu hari nanti kamu akan menjadi orang yang mempunyai nilai besar untuk hidupmu." Aku meneruskan perkataanku.
"..." Dia menunggu perkataanku selanjutnya.
"Ngomong-ngomong, kemarin untuk apa kamu masuk bekerja? Bukankah sudah hakmu untuk libur?" Tanyaku lagi.
"Bukankah kemarin kamu mengatakan bahwa toko kita akan kedatangan banyak barang masuk?" Dia menjawab.
"Lalu?" Aku masih belum mengerti maksud dari jawabannya.
"Aku bekerja untuk sebuah nilai. Jika aku masuk untuk membantu, apakah itu menjadi sebuah nilai bagimu untukku?"
Kami tertawa bersama.
Sejak hari itu, aku katakan kepadamu melalui catatan trivialku ini, aku selalu tersenyum ketika kamu mengoceh sana sini, mengulang-ulang filosofi asal-asalan yang lahir dari pembicaraan kita tempo siang itu. Dan aku terkadang harus menyumbat telingaku ketika kamu terus-menerus mengatakan kepadaku :
Bekerjalah untuk sebuah nilai, bukan untuk sebuah upah.
Februari, 2011
Langganan:
Postingan (Atom)