Selasa, 12 April 2011

What Did You Know?

Seorang mengatakan bahwa hidup tidak pernah memberinya pilihan, yang lain berkata bahwa hidupnya selalu ditabrak kemalangan. Sementara sebagian lagi mengeluh kesahkan perihal sekolahnya sampai ada yang membahas rumah tangganya. Semuanya bercerita seolah mereka makhluk paling sial di dunia. Tanpa keberuntungan sedikit pun. Seolah Fortuna sudah sejak lama membenci mereka.

Lalu apa yang kalian rasakan jika kalian nyaris gila karena hidup menuntut kalian untuk melahirkan tujuan sementara kalian kehilangan media untuk menggapainya. Seperti kisah Beethoven yang mendadak tuli sebelum ia melahirkan Fur Elise. Jika kalian menjadi dia, apakah Fur Elise akan lahir? Atau hanya akan menjadi malaikat maut yang terjebak di dalam kotak musik?

Apa yang terjadi kepada kalian jika kalian menjadi seorang Leonardo da Vinci yang mendapati bahwa ruang penyimpanan lukisannya dilalap api kebakaran? Apakah La Gioconda Monalisa akan lahir? Apakah The Last Supper akan dipamerkan di ruang-ruang kesenian negara?

Apa yang kalian tahu tentang aku? Selain dari percakapan-percakapan imajiner kita? Seperti seorang anak laki-laki yang mengisi hidupnya dengan debaran? Atau sebaliknya, seorang anak yang menghabiskan hidupnya tanpa impian?

Kukatakan satu hal padamu, Kawan. Sungguhpun aku ingin sekali untuk bisa melihat dunia secara penuh seperti yang bisa kalian semua lakukan, melihat matahari dengan penglihatan sempurna dari mata kiri dan kanan. Tetapi Tuhan telah sejak lama membutakan mata kiriku. Sungguh aku sempat menaruh kecewa kepadaNya. Namun, aku mengerti bahwa semua diizinkanNya terjadi demikian adalah sudah seturut rencana dan kehendakNya saja di bumi seperti di dalam Surga. Dia mematikan mata kiriku karena Ia telah lama memperhatikan sosok iblis di dalamnya dan Ia tidak menghendaki hal itu terjadi di dalam diriku.

Jakarta, 12 April 2011

Minggu, 03 April 2011

Surat-surat Penyapu Jalan

Ini hari ketujuhku sebagai penyapu jalan. Aku menemukan banyak keping kehidupan yang dibuang di jalan-jalan ini. Ada kegundahan, kekhawatiran, kesedihan, keputus asaan, dan yang ironis adalah ketakutan manusia menyatakan cinta. Ya, seperti surat lecek yang kutemukan di trotoar barusan ini. Penulisnya pasti sangat dangkal. Dia terlalu takut menyatakan perasaannya. Dia takut kehilangan sehingga ia memilih tidak memulai. Seperti drama dalam sinetron saja.

Aku mencintai bukan untuk melukai. Aku mencintai karena aku mengagumi dan ingin selalu memahami. Tetapi semuanya akan hilang ketika aku mencoba menyampaikannya. Ini suratku yang kedua yang barangkali kutulis lantas kubuang begitu saja tepat ketika kububuhkan tanda titik pada kalimat terakhirnya.

Aku tidak mengerti bahasa orang atas. Sebagai penyapu jalan, aku hanya mengerti bahwa cinta bukanlah cinta sebelum ia dipersembahkan. Cukup sampaikan, lalu cukup lihat bagaimana nantinya. Apakah akan mendapat jawaban yang menyenangkan atau menyakitkan, itu urusan belakangan.

Aku tidak mengerti bahasa orang sekolahan yang memasukkan cinta ke dalam rumus pemasukan dikurang pengeluaran dikurang biaya cinta lebih kecil dari mapan sama dengan bunuh diri. Masa bodoh dengan itu. Aku dan istriku hidup dari memulung sampah, menyapu sampah, tetapi cinta kami seperti sampah yang sukses didaur ulang, terasa sangat mahal nilainya. Masa bodoh dengan rumus matematika kehidupan dan percintaan.

Terakhir kali aku mendengar sebuah lagu lewat radio usang yang kupungut dari tong sampah rumah orang kaya di blok seberang, kalau tidak salah penyiarnya sempat mengucapkan 'Janet Jackson', kuanggap itu nama penyanyinya. Dia melantunkan sebuah lirik yang indah, begitu menurut penyiarnya yang kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, sebab aku tidak mengerti bahasa lain selain itu :

"Doesn't really matter what the eye is seeing, 'cause i'm in love with the inner being." -Janet Jackson
"Tidak peduli apa yang dilihat mata, karena aku jatuh cinta pada yang di dalam hati."


Jakarta, 3 April 2011

Rabu, 23 Maret 2011

Fadillah

"Memang kita sedang apa, Ayah?" aku yang waktu itu masih duduk di bangku kelas tiga SD bertanya kepada ayahku yang sedang sibuk berbicara dengan seorang petugas berseragam.
"Mengurus paspor-mu, kamu harus dioperasi."
"Apa itu operasi? Untuk apa?"
Ayah tidak menjawab.

***

Hari ini aku merasa pusing. Bukan. Bukan karena pelajaran matematika kelas tiga SD yang sedang dijelaskan oleh ibu guru. Aku tidak bisa memfokuskan mataku pada papan tulis. Pandanganku kabur, sampai akhirnya aku ambruk. Ibu guru wali kelasku, Ibu Christine membawaku ke UKS Sekolah.

Beberapa jam kemudian aku siuman. Aku ditanyai macam-macam. Aku tidak menjawab. Aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku, tetapi aku tidak tahu apa itu. Ah, ketemu! Aku baru menyadari, pandanganku tidak penuh! Hanya sebelah! Oh, Tuhan, kenapa ini? Ada apa dengan mataku?

Aku mencoba menutup mata kiriku, membiarkan diriku melihat hanya dengan sebelah mata kanan saja. Tidak ada masalah. Kini kuberanikan diriku menutup mata kananku. Tidak! Apa yang terjadi? Aku tidak bisa melihat! Mata kiriku buta!

Ibu penjaga UKS kebingungan melihat tingkah panikku. Dia memegangiku, kemudian memelukku, seolah dia tahu apa yang sedang terjadi di sini.

Ibu Christine langsung menghubungi orang tuaku, aku dipulangkan. Ia menceritakan kejadiannya kepada ibuku. Mata kiriku ternyata bukan buta, tetapi tidak berfungsi lagi. Bahkan untuk mengenali wajah ibuku yang berdiri tepat di hadapanku saja tidak bisa. Hanya kelihatan warna putih dan hitam membentuk pola tidak karuan.

***

Beberapa bulan kemudian ayah membawaku ke Singapura untuk berkonsultasi dengan seorang dokter yang dikenalnya. Dokter tersebut tidak menyarankan aku untuk dioperasi, sebab usiaku masih belum cukup, terlebih saat itu aku bersikeras menolak menjalani operasi karena ketakutan yang luar biasa. Membayangkan matamu dicungkil keluar, kemudian diganti dengan mata orang lain? Tidak! Yah, itulah yang bisa dibayangkan seorang anak SD kelas tiga sepertiku saat itu. Mana aku mengerti tentang retina dan kornea, apalagi titik jatuh bayangan, mendengarnya saja belum pernah.

Tahun demi tahun berganti, usaha ayah memburuk. Aku tidak pernah akan dioperasi. Tak masalah, toh memang aku tidak mau.

Aku selalu menyembunyikan kenyataan ini dari semua teman-temanku, aku tidak mau dibilang buta atau lebih buruknya aku tidak mau sampai dikasihani. Karena itulah aku tidak pernah melepaskan kacamataku selain ketika aku beranjak tidur.

Tetapi hari ini aku dipertemukan dengan seorang anak di Perkampungan Nelayan bernama Siti Nur Fadillah. Mata kiri dan kanannya masing-masing sudah minus sepuluh koma lima dan minus tujuh sejak lahir. Dia tidak pernah memberitahuku. Aku bisa mengerti, dia pasti minder dan tidak ingin dianggap cacat.

Aku mengetahui hal itu ketika aku memperhatikan pola tingkah anak-anak didik di kelas itu saat mereka sedang mencatat apa yang kutuliskan di papan tulis. Aku melihat Fadillah, demikian dia akrab disapa teman-temannya, berdiam diri. Aku bertanya,"Ada apa?"

"Tidak kelihatan."

Aku terkejut, tulisanku itu sudah sangat besar, sudah sengaja dibesarkan supaya bisa dilihat oleh anak yang duduk di barisan belakang. Saat itulah kutanyakan apakah ada masalah pada matanya yang ia sembunyikan? Dia mengangguk.

Beberapa hari kemudian, aku membawanya check mata ke klinik terdekat, dokter mata memberikan catatan kepadaku tentang minus dari kedua mata Fadillah.

Tuhan,
jika aku hanya bisa melihat dunia sebelah saja,
izinkan aku memiliki kemampuan untuk melihat anak ini tersenyum penuh...



Penyerahan kacamata untuk Siti Nur Fadillah (Kelas II SLTP) oleh HOME
Keterangan mata Siti Nur Fadilah : mata kanan -7, mata kiri -10.5


Tuhan tidak memampukanku untuk melihat dunia secara penuh, tetapi Dia telah memampukanku melihat Fadillah tersenyum penuh.

Agustus, 2010
"Terima kasih atas dukungan sobat-sobat HOME sehingga anak-anak ini bisa mendapatkan kacamata dan melihat secara penuh."

Sabtu, 19 Maret 2011

Saga

Monika, kamu ingat? Ketika aku dan kamu masing-masing masih enam, kau dan orang tuamu yang baru saja pindah ke kampung kami, datang bertamu ke rumahku. Sementara orang tua kita asyik bercengkerama tentang tetek bengek sayuran sampai kenaikan harga bensin, aku dan kamu asyik bermain gundu. Saling adu sentil bola-bola kaca dengan hiasan manik-manik di dalamnya. Cantik, seperti dirimu.

Sampai tiba waktunya kita masing-masing bermetamorfosis menjadi remaja, orang tuaku menampik kehadiranmu dalam hidupku. Mereka membencimu, Monika. Entah, aku tidak mengerti, apakah aku salah jika mencintaimu, Monika? Sudah terlambat. Ayah membelikanku tiket dan mengurus kepindahanku ke negara Paman Sam sana.

Kini sudah puluhan tahun berlalu sejak kenangan bermain kelereng bersamamu, Monika. Sampai saga lama ini kembali terlintas di hadapanku. AKu lupa menceritakannya kepadamu, aku telah menikah dengan seorang warga Amerika di sini sejak aku lulus dari bangku kuliahku, Monika. Bahkan aku telah dikaruniai seorang anak perempuan, kuberi dia nama seperti namamu, Monika. Pada musim dingin kali ini Monika tepat enam.

Akhir pekan itu aku dan suamiku sedang menemani Monika kecil menonton televisi di ruang keluarga. Tiba-tiba suara bel di depan terdengar. Kubukakan pintu. Seorang pria Asia bertanya,"Bolehkah kami bertamu sambil memberikan hadiah kecil ini sebagai perkenalan kita? Aku mengajak istri dan anakku pindah ke sini dari Indonesia."

Suamiku datang dan mempersilahkan mereka masuk. Aku terkejut, kamu datang bersama lelaki itu, Monika. Kamu juga datang bersama putrimu, yang belakangan kuketahui kau beri dia nama seperti namaku.

Sementara kita, para orang tua berbincang-bincang tentang tetek bengek masakan di Amerika, sambil aku dan kamu berpura-pura tidak saling kenal, aku tahu persis kamu melihat pemandangan yang sama dengan yang kulihat saat itu. Putrimu dan putriku, mengulangi saga kita yang telah terkubur lama, asyik bermain gundu. Saling adu sentil bola-bola kaca dengan hiasan manik-manik di dalamnya. Cantik, seperti dirimu.

Minggu, 06 Maret 2011

Back Office : February 2011

Aku akan menuliskan sebuah trivial tentang sepotong waktu, jauh sebelum beberapa orang yang bekerja di tempat aku bekerja mulai mengeluarkan perkataan,"Ada kamu, ada dia. Ada dia, ada kamu."

Saat itu di sudut kantin karyawan, kami, aku dan pria bernama panggilan Tata, sedang menunggu makan siang yang kami pesan tersaji. Aku memulai pembicaraan,"Apakah kamu percaya ada beberapa orang di luar sana yang bekerja bukan berorientasi upah, melainkan berfokus pada sebuah nilai?"

"Maksudnya?" Dia menjawab tanpa berpikir.
"Di dunia ini, ada orang-orang yang tidak memusingkan gaji atau upah yang diberikan, tetapi lebih memikirkan nilai yang ia capai dari sebuah pekerjaan itu."
"..." Dia diam.
"Pernah mendengar kisah seseorang yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi sesama manusia?"
"Pernah."
"Apakah orang-orang seperti mereka memikirkan gaji?"
"Tidak."
"Lalu apa yang mereka hendak capai?"
"Bukan kesuksesan, tetapi nilai."
"Cerdas!" Aku tersenyum.

"Tanamkan pemikiran seperti itu, sehingga aku akan senantiasa percaya kelak suatu hari nanti kamu akan menjadi orang yang mempunyai nilai besar untuk hidupmu." Aku meneruskan perkataanku.
"..." Dia menunggu perkataanku selanjutnya.
"Ngomong-ngomong, kemarin untuk apa kamu masuk bekerja? Bukankah sudah hakmu untuk libur?" Tanyaku lagi.
"Bukankah kemarin kamu mengatakan bahwa toko kita akan kedatangan banyak barang masuk?" Dia menjawab.
"Lalu?" Aku masih belum mengerti maksud dari jawabannya.
"Aku bekerja untuk sebuah nilai. Jika aku masuk untuk membantu, apakah itu menjadi sebuah nilai bagimu untukku?"

Kami tertawa bersama.

Sejak hari itu, aku katakan kepadamu melalui catatan trivialku ini, aku selalu tersenyum ketika kamu mengoceh sana sini, mengulang-ulang filosofi asal-asalan yang lahir dari pembicaraan kita tempo siang itu. Dan aku terkadang harus menyumbat telingaku ketika kamu terus-menerus mengatakan kepadaku :

Bekerjalah untuk sebuah nilai, bukan untuk sebuah upah.

Februari, 2011

Rabu, 23 Februari 2011

Pengorbanan

Perbedaan antara memberi dan berkorban terletak pada rasa sakit. Ketika kamu memberi dan terasa sakit, artinya kamu sudah berkorban.

Jangan takut dan khawatir, sebab Tuhan Allahmu tidak akan meninggalkan orang-orang yang telah mengerti artinya berkorban. Mengapa? Sebab Ia sendiri harus bersusah payah mencari sampai ke pelosok bumi untuk menemukan orang-orang dengan hati seperti itu.

Jakarta, Februari 2011

Senin, 31 Januari 2011

Tout Seul (Sendirian)

Sendirian. Tengah malam. Seperti kemarin. Sulit tidur. Sudah semakin gila. Kemarin setengah gila, hari ini tiga perempat gila, besok? Aku menjaga kewarasanku di dalam tulisan-tulisanku yang bukan-bukan, yang absurd.

Tanda merah. Di sudut kiri atas akun jejaring sosialmu. Lagi-lagi, begitu pikirmu, seorang gila menulis di dalam malam. Tengah malam. Ah, maafkan aku. Mengganggu mimpi kalian. Mengajak kalian mewaraskan aku.

Mataku menjelajah ke memori komputer. Mencari sebuah file musik untuk kuputar. Ketemu. Lagu I Believe in You milik maha duo Il Divo dan Celine Dion.

PLAY

Kesepian, jalan yang telah kau pilih
Sebuah jalan kegelisahan, tidak ada jalan untuk kembali
Suatu hari kau akan menemukan cahayamu lagi
Apakah kau tahu?
Jangan biarkan berlalu, jadilah kuat

Ikuti kata hatimu
Biarkan kasih memimpinmu melalui kegelapan
Kembali ke sebuah tempat yang pernah kau kenal dulu
Aku percaya, aku percaya, aku percaya padamu

Ikuti impianmu
Jadilah dirimu sendiri, seorang malaikat kebaikan
Tidak ada yang tak bisa kau lakukan
Aku percaya, aku percaya, aku percaya padamu

Sendirian
Kau akan meninggalkan kesendirianmu
Buka hati
Tatap semesta
Tempuh pencarianmu
Jangan melihat ke belakang
Jangan menunggu
Hari itu
Bangkit

Ikuti bintangmu
Seberapa jauh impianmu akan membawamu
Suatu hari kau akan menggapainya
Jika kau yakin, jika kau percaya, jika kau percaya
Pada dirimu

Ikuti cahaya
Jangan padamkan api yang kau bawa
Dan ingat
Aku percaya, aku percaya, aku percaya
Pada dirimu

Suatu hari nanti aku akan menemukanmu
Suatu hari kau akan menemukanku juga
Dan ketika aku memelukmu erat
Aku tahu itu sudah benar

Ikuti kata hatimu
Biarkan kasih memimpinmu melalui kegelapan
Kembali ke sebuah tempat yang pernah kau kenal dulu
Aku percaya, aku percaya, aku percaya padamu

Ikuti impianmu
Jadilah dirimu sendiri, seorang malaikat kebaikan
Tidak ada yang tak bisa kau lakukan
Aku percaya, aku percaya, aku percaya padamu


Kau dengar? Seberapa jauh impianmu akan membawamu, katanya. Suatu hari kau akan menggapainya, katanya. Kembali ke sebuah tempat yang pernah kau kenal dulu, katanya. Dan ketika aku memelukmu erat, aku tahu itu sudah benar, katanya. Kau dengar, Kawan? Bersediakah kalian bertahan, untuk sebuah janji yang tidak pernah aku tahu tergenapi tidaknya? Tetapi kalian telah mendengar sendiri kisah ajaib Musa yang membelah Laut Merah, bukan? Itukah yang namanya keyakinan seratus persen?

Kalian mengerti? Jika tiba waktuku nanti bertemu dengan malaikat penjagaku, aku hanya ingin bertanya satu hal dan mengajukan satu permohonan. Mengapa otakku mampu memerintah fungsional tubuhku, tetapi tidak mampu menghidupkan hidupku di dalam jalan kerinduanku? Permohonanku sederhana, bawa aku menemukan kembali hidupku yang terasa mati. Jika kalian memutuskan pergi sekarang, maka aku akan mati. Kerinduanku hanya kalian yang membawanya. Maafkan aku merepotkan kalian di tengah malam begini.

Kalian percaya bahwa kita akan menemukan hidup kita kembali? Kalian yakin jika aku akan menemukan kalian lagi? Seperti Musa? Benarkah?

Apakah kalian berkenan menolongku? Melihat ke dalam mataku, mencungkilnya keluar, kemudian melihat di dalamnya. Apa yang kalian temukan? Kalian akan menemukan diri kalian satu per satu terekam di dalam retinaku. Apakah kalian mempercayaiku, kata-kata bukan-bukanku barusan? Sungguh? Seperti Musa?

Aku percaya, aku percaya, aku percaya padamu.