Selasa, 18 Januari 2011

Tiga Ponsel

Beri aku kesempatan bercerita. Mungkin akan terlalu panjang, tapi kumohon sabarkan mata kalian untuk membacanya. Aku sendiri tidak ingat bagaimana kisah ini bermula, tahu-tahu sudah lima tahun aku terjebak di dalamnya, dilema tiga ponsel yang telah melenyapkan eksistensiku sebagai manusia.

Ponsel pertamaku, isinya penuh cerita tentang hubunganku dengan seorang pria setengah baya yang sebut saja namanya Emir, diambil dari bahasa Arab, yang artinya pangeran. Dialah tuan Emir, pangeran narkotika. Satu kali ponselku berdering, berarti satu tugas yang harus aku lakukan untuk tuan Emir.

Biasanya dia meneleponku untuk meminta bantuanku. Adalah kewajibanku mengantarkan telepon seluler ke tempatnya berada, Lembaga Pemasyarakatan. Sudah puluhan tahun ia mendekam di sana dan dia membutuhkan banyak sekali ponsel. Itu yang aku dengar dari dirinya. Hei, kali ini ia tidak memintaku untuk mengantarkan ponsel. Kali ini ia memintaku mengantarkan sebuah laptop yang sudah diisi aplikasi pembukuan kecil.

Nah, sekarang aku beralih ke ponsel keduaku. Di dalam ponsel yang satu ini berisi setumpuk SMS dan pada daftar panggilannya tertera nama-nama pemesan hasil produksi tuan Emir. Jelas bukan? Aku ditelepon, aku datang, transaksi!

Hei, tapi karena ponsel pertamaku tadi untuk pertama kalinya berdering untuk tugas yang berbeda, maka ponsel keduaku kali ini juga kugunakan untuk hal yang sedikit berbeda. Aku menelepon salah satu nomor telepon toko komputer yang tertera pada kolom iklan di sebuah halaman surat kabar. Lalu kudatangi toko itu untuk membeli satu unit notebook yang diminta tuan Emir. Masalah aplikasi pembukuan, nanti biar kuminta tolong pada temanku saja yang memang mahir di bidang itu. Paling aku harus sedikit berbohong padanya dengan mengatakan itu adalah tugas kuliah.

Semuanya berjalan lancar. Hari-hari seperti itu membuaiku pada alam maya, semu.

Hari ini tahun dua ribu sembilan akan segera berakhir, dan hari ini aku membeli satu lagi ponsel untuk diriku sendiri. Ponsel ketiga. Sebenarnya waktu aku membeli ponsel itu, aku belum tahu mau kugunakan untuk apa nantinya. Sampai hari itu tiba, aku terpikat pada seorang gadis. Tidak perlu kusebutkan siapa namanya, kapan dan di mana aku bertemu dengannya. Pokoknya aku berkenalan dan bertukar nomor telepon dengannya. Kuberi dia nomor ponselku, nomor ponsel ketigaku. Ya, ini dia, baru kutemukan kegunaan dari ponsel ketigaku.

Semakin lama aku mengenalnya, semakin aku menyadari betapa aku telah kehilangan eksistensi hidupku. Aku telah ditelan ketiadaan sejak lima tahun yang lalu tanpa aku menyadarinya.

Aku terus-menerus larut dalam perenunganku itu. Malam itu, kuputuskan mencari angin segar dengan berjalan-jalan sebentar ke sebuah tanah kosong di dekat rumahku. Di sana, kujajarkan ketiga ponsel milikku di atas permukaan tanah. Ada sekitar lima belas menit perjalananku di alam lamun untuk mengakhiri lamunanku malam itu. Seketika aku sadar, kuambil ponsel ketigaku, sementara yang dua lagi, kutinggalkan di sana.

Ketika aku menuliskan semua ini, aku baru ingat, waktu aku meninggalkan dua ponselku malam itu, aku tidak mencabut sim card-nya.

Aku jadi berpikir, bila ada orang lain yang mengambilnya, lalu membaca isi dari kotak pesan di dalamnya, dan mengerti situasinya, apa jadinya?

Apakah orang itu akan menyerahkannya kepada pihak yang berwajib? Atau ia akan menjadi penggantiku bagi tuan Emir? Hanya iman dan hawa nafsu yang menentukannya.

Ceritaku selesai sampai di sini. Terima kasih kalian telah bersedia membacanya. Bila ada di antara kalian yang menemukan ponsel yang kutinggalkan itu, aku ingin sekali bertanya padamu : ‘sudahkah kau lakukan hal yang semestinya?’

aku
di antara ribuan jemaat
dan jutaan umat
apa namaku?


Minggu, 09 Januari 2011

Generasi yang Mencapai Garis Akhir

Harap dicatat, suatu hari di sini keadaannya tidak akan seperti ini.
Orang-orang paling aneh akan datang dan tinggal di sini.
Mereka akan berteriak-teriak atas nama generasi,
sementara yang lain menghujat mereka sebagai kubu yang anarkis atau fanatik idealis.

Tetapi aku katakan, aku sangat mencintai mereka.
Mereka adalah suatu benih baru yang akan melahirkan satu generasi merdeka.
Mereka memilih berdiri pada kebenaran dan menolak segala kebobrokan.
Mereka lebih memilih mengkritik lewat solusi,
bukan menghujat lewat emosi.

Senin, 03 Januari 2011

Selintas Kenangan

Monika,
waktu kau menanyakan di mana aku sekarang,
sesungguhnya aku selalu saja bisa melihatmu dari sini,
aku selalu memperhatikanmu,
semalam kau tengah tergesa-gesa masuk ke dalam rumahmu sambil basah kuyup karena hujan bukan..?
Aku di sini,
tepat di depan jendela dengan gerimis merayap perlahan,
meratapi setiap tetes rindu yang sudah lama kau buang..

Di mana aku sekarang..?
Aku tidak pernah jauh darimu,
setiap kali aku pergi jauh, aku pasti lupa jalan pulang,
kau tentu tahu itu kan..?
Jadi aku tidak akan pernah pergi terlalu jauh darimu..
Bahkan aku bisa melihatmu dari sini,
tapi kau tak perlu tahu di mana aku sekarang,
nanti kau juga akan tahu..

Aku hanya sedang ingin sendiri,
bersembunyi,
karena aku kehilangan debar,
yang tadinya kurasakan setiap malam,
yang selalu membuatku kesulitan tidur pulas..
Aku kehilangan debar,
jadi kuputuskan untuk bersembunyi saja..

Hei,
apakah kau ingat..?
Kau begitu penakut,
sementara aku begitu pelupa..?
Sudah sebegitu takut kita,
atau kita sudah lupa,
arti cinta bukan masalah siapa yang kurang bukan..?
Justru dengan ketakutanmu,
aku merasa berarti menjadi seorang pria..
Dengan kelelupaanku,
kau juga begitu berarti buatku,
dengan menanyakan,
Apakah kamu sudah makan..?

Ah,
sudahlah,
sudah lama..
Aku tak mau membahasnya lagi,
tak penting bagiku,
tak penting juga buatmu,
lebih-lebih,
buat kita,
bukan begitu,
Monika..?

from your valentine

Jumat, 24 Desember 2010

Ingatan

Bocah itu memanggilku terus-menerus. Aku bisa mengetahuinya hanya dari gerakan bibirnya yang melantunkan namaku walau suaranya tidak terdengar sampai ke telingaku. Aku seperti mengenal bocah itu. Tetapi aku yang saat itu masih anak-anak terlalu asyik dengan permainanku sendiri untuk mendengarkan panggilan seorang bocah lain yang kelihatan sama sekali tidak seru.

Esok paginya ketika waktu mengubahku menjadi seorang remaja, aku mendapati seorang anak muda memanggil-manggilku di depan jendela kamarku. Menjerit-jeritkan sesuatu. Aneh, aku tidak bisa mendengar suaranya, padahal ia hanya satu langkah di depan jendela kamarku. Aku benar-benar merasa mengenal anak muda ini. Tetapi waktuku terlalu sayang bila kugunakan untuk mencari tahu seluk-beluk anak muda yang tidak jelas itu. Pacarku sudah meneleponku berkali-kali untuk jadwal kencan hari ini. Aku menyebutnya 'sibuk'.

Bertahun-tahun kemudian aku menantikan bocah dan anak muda itu lagi. Kali ini akan kutangkap basah dia, lalu kuinterogasi sedalam yang mungkin, begitu pikirku. Hari demi hari aku menantikan kedatangan mereka, tetapi mereka tidak kunjung datang menemuiku lagi.

Sampai ketika aku sedang merasakan nikmatnya hidup bersama teman-teman bernama malam, kali ini seorang lelaki datang. Ia memanggil-manggilku, memintaku keluar sebentar. Sayang, alunan musik di ruangan itu terlalu hingar-bingar dan berat untuk aku tinggalkan. Aku malas menghampirinya walau dalam pikiranku aku begitu penasaran siapa dia. Wajahnya sangat familiar.

Hari ini, setelah tidak lagi pernah orang-orang aneh itu datang menemuiku, memanggil-manggil namaku, aku menyadari bahwa mereka adalah aku yang dari berbagai masa. Datang secara khusus untuk memperingatkanku bahwa waktu bukan untuk dimainkan, bukan untuk dinikmati. Waktu terlalu kejam untuk dimintai tolong. Ia terlalu angkuh untuk mengulurkan bantuan. Ia hanya akan menyelipkan keajaiban bernama 'kesempatan' dalam sela-sela tidak terduganya, dan mau tidak mau saat itu kita harus siap atau akan kehilangan peluang selamanya. Itulah waktu. Sekali dicoba untuk menghentikannya, detak jantungmu justru terhenti dan neraka siap menampungmu. Waktu tidak bisa dihentikan barang sedetik saja, dia seperti dewa maha kejam yang menghukum manusia-manusia yang tidak menghargainya.

Mereka yang mencoba menghentikan waktu barangkali terlalu putus asa sehingga memilih menghentikan denyut jantung mereka sendiri.

Aku ingin mengatakan dua hal sederhana kepada kalian. 'Maaf', untuk hal-hal yang tak sanggup aku jelaskan, karena aku tidak selalu tumbuh dari kebaikan tetapi juga dari dosa. 'Terima kasih', untuk semua yang tak terkatakan, sekalipun seringkali aku tidak mengerti pikiran kalian, tetapi isi hati kalian tidak akan pernah mengecewakanku.

Bila aku mengingat-ingat, belakangan ini perasaanku sungguh tidak melegakan. Kepalaku terasa sakit ketika aku menuliskan beberapa percakapan-percakapan imajiner kita selama ini. Barangkali karena aku memasukkan kesadaran sebagian masa laluku di dalamnya, sehingga aku merasa bertualang di dalam ruang waktu milik Doraemon, kemudian terjebak di dalamnya.

Aku senang ketika aku berbagi dengan kalian, dan kalian? Apakah kalian senang membaca percakapan-percakapan imajinerku selama ini, atau justru bosan? Entahlah, aku tidak tahu pasti. Kita memang terpisah jarak dan waktu. Aku menuliskannya hari ini, kalian membacanya esok atau nanti, atau bahkan tidak membacanya sama sekali.

Aku hidup di masa kini yang sekarang, tetapi aku merasa kehadiranku absen dari kehidupan.

'Terima kasih' karena kalian telah menjadi tempat penampungan luapan imajinerku yang bukan-bukan, yang barangkali bila kubaca lagi setahun ke depan tulisan ini, akan terlihat seperti kata-kata cengeng yang konyol. Muluk-muluk.

Senin, 13 Desember 2010

Perjalanan Melamun

Cepat atau lambat, setiap manusia pasti akan mengalami masa di mana ia berusaha keras memikirkan sebuah solusi yang menuntut kreativitas, tetapi tidak juga menemukan apa-apa. Kosong dan buntu. Semakin berpikir semakin merasa tidak ada jalan keluarnya.

Melamun adalah sebuah perjalanan, pengembaraan pikiran, membebaskannya di awang-awang. Seperti Thomas Alfa Edison yang menemukan materi untuk penyempurnaan bola lampunya yang justru sama sekali di luar dugaannya dan membuatnya menghabiskan seribu percobaan.

Lalu dengan melamun, otomatis mendapatkan ide yang dicari? Tidak.

Temukanlah jalan keluar dalam perjalanan lamunanmu. Temukan ide di tengah pengembaraan pikiranmu, lalu bawa ia pulang ke dunia nyatamu. Jika seorang Archimedes yang saat itu menemukan jalan keluar ketika ia sedang melepas kepenatan dengan berendam di bak mandi, tetapi ia tidak menyadari bahwa ia sedang mendapat ide, maka tidak akan ada saat-saat Eureka miliknya.

Jumat, 03 Desember 2010

Monolog

"Memang seberapa banyak yang kau tahu?" tanyaku.
"Mengenai apa?" jawabnya.
"Tentang diriku." aku membalas.
"Tentu saja banyak."
"Apa yang kau tahu?"
"Kamu tidak lebih dari seorang anak dengan iming-iming terlalu besar."
"Impian?"
"Imajinasi tepatnya. Atau boleh juga kau sebut fantasi."
"Sinting! Apa maksudmu?"
"Bukankah kau sendiri merasakannya? Sudahlah, jangan bohongi aku! Selama ini, seumur hidupmu aku selalu menyertaimu, selalu mendampingimu, bukan? Mana mungkin aku salah menilai isi hatimu?"
"Brengsek."
"Benar kan? Kau terlalu bosan dengan duniamu, lalu kau menciptakan sendiri duniamu? Kau tersesat dalam utopia milikmu sendiri. Utopiamu terlalu panjang dan tinggi sehingga kau sendiri tidak tahu harus menempuh ke arah mana untuk mencapainya."

Aku diam. Tertunduk.

Kutatap lagi wajahnya. Tidak ada ekspresi. Baru kemudian dia menggeram, seperti aku yang juga menggeram. Kukepalkan tinju, kuhajar dia.

Pecah.

Dia hancur berkeping-keping, sementara tanganku berdarah.

Kamis, 02 Desember 2010

Fantasista

Di belahan bumi manapun akan selalu saja ada, sekumpulan orang-orang yang menghabiskan hidupnya untuk memproduksi ide-ide, atau pikiran-pikiran yang jauh dari logika. Pemikiran yang dihasilkan nyaris tidak bisa diterima oleh kebanyakan orang. Bukan apa-apa, mereka cenderung ditolak karena ide dan pemikiran mereka dianggap tidak wajar, beresiko tinggi alias nekad, dan berujung kesia-siaan. Namun, bila pemikiran mereka berhasil terwujud, tidak akan ada seorangpun yang mampu menduga hasilnya.

Salah satu contoh ambil saja dalam dunia sepak bola, David Beckham. Tahun 1996, bersama tim Manchester United, Beckham melawan kesebelasan Wimbledon. Saat itu ia masih berada tepat di garis tengah lapangan. Sewajarnya seorang pemain sepak bola, semua orang seharusnya mengoper atau paling tidak berusaha menggiring bola menerobos area pertahanan lawan. Tetapi entah apa yang ada di dalam kepala David Beckham, dia mengayunkan kaki kanannya, dan tercatatlah namanya sebagai pencetak gol dari tengah lapangan. Seandainya spekulasi itu tidak menjadi gol, ide Beckham saat itu hanya dianggap sia-sia, tidak logis, dan membuang-buang kesempatan.

Orang-orang dengan pemikiran gila yang nyaris tidak masuk akal seperti inilah yang disebut,
Fantasista...


klik di sini untuk videonya David Beckham (Manchester United) - Goal From Half